"Itu tandanya wanita sudah membuka diri Ik, segeralah kau tembak dia!"
"Bah! Kau ajari pula playboy macamku ini...", jawabku sombong - bercanda. Ano kembali tertawa lepas, lebih keras dari yang tadi. Tawa yang lebih dalam arti geli.
"Playboy cap kadal!", katanya. "Merayu cewek aja kau tak berani Ik...Ik....!"
"Ah, sudahlah! Aku harus berangkat, udah mau telat".
Kutinggalkan Ano menuju kamar, mengambil tas dan mengunci pintu. Ano rupanya tak mau begitu saja ditinggalkan, dia tahan langkahku dan menarik lenganku agar duduk bersamanya di sudut teras.
Ada dua kursi bersandar di sudut teras kost kami, lengkap dengan meja bulat dengan 3 asbak yang penuh puntung rokok. Di bagian lantai jangan ditanya, sampah plastik dan bungkus nasi berserakan di mana-mana. Sepagi ini, ibu kost belum mulai meninjau, dan selama belum terdengar teriakan marah beliau komentar tentang kebersihan, taksatupun dari kami yang bergerak mengambil inisiatif bersih-bersih lantai. Adat kebiasaan kami ini pula yang bikin si ibu kecanduan mengontrol kost miliknya. Dan sebaliknya, kami juga kecanduan teriak marah-marahnya si ibu.
Belum Ada JUDUL
Kuikuti dengan terpaksa kemauan Ano untuk duduk di kursi teras kost, meskipun waktu dimulai kuliah tinggal 15 menit lagi. Alamat akan telat kuliah atau bahkan bolos kuliah pagi ini. Duduklah kami bersebelahan, Ano merangkulku dan mendekatkan kepalanya - penanda khas kalau dia mau bicara serius. Kupasang telinga baik-baik yang sudah hampir menempel ke mulutnya.
"Kau, sudah lama aku kenal Ik. Kita berdua sudah saling kenal tanpa ada yang perlu disembunyikan", kata Ano sambil menatapku, tatapan yang berusaha meyakinkan. Aku menangkap dengan lirikan mata sebab posisi duduk kita bersebelahan. Seperti dejavu, sebuah kejadian yang serasa sudah pernah kualami sebelumnya padahal belum.
"Kamu butuh duit?" balasku bertanya setelah sadar bahwa ini bukan dejavu. Aku teringat waktu pertama kali Ano kehabisan uang saku lalu nyamperin ke kostku yang lama. Seperti itulah gayanya bicara, persis!
"Alamaaaak, kau ni keluar dari konteks saja rupanya!" seru Ano tiba-tiba sambil menggoncang-nggoncang tubuhku. Gaya bicara kawanku yang satu ini memang suka meledak-ledak kayak karburator motor kalau kemasukan air. Begini ini yang bikin gendang telingaku menderita.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176