"Tadi aku juga sudah bilang laris-manis, kupikir sudah jelaslah artinya", jawabku ber-retorika lagi dengan sama-sama mengulang kalimat.
Sejenak kami saling diam, aku sendiri sedang terus memutar otak, mencari kata demi kata yang pantas buat dirangkai jadi kalimat. Restu entahlah, aku tak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya. Segera aku teringat tentang karakter perempuan yang cenderung lebih pandai menyimpan perasaan dengan memilih diam daripada bicara.
Dua kali aku pernah berpacaran sebelumnya, dan selalu dibuat pusing menghadapi sikap diamnya perempuan. Kini sudah 4 tahun aku tanpa kekasih, semua kenangan masa laluku mendadak kembali bermunculan. Mungkin dalam rangka membongkar lagi referensi-referensi kalimat yang sekiranya pantas diobrolin sepasang kekasih. Astaga! Saraf sadarku terstimulasi, menuntunku untuk kembali bersikap normal. Aku dan Restu belumlah sepasang kekasih, baru sebatas saling mengagumi.
"Mbak Ica cerita apa tadi?", tanya Restu membuatku terkejut untuk yang ketiga kalinya. Terkejut sebab kalimat tanya itu pula yang hendak kulontarkan, tapi rupanya Restu lebih cepat.
"Ah, tidak banyak. Ica cuma bilang kalau kalian kawan sekamar." jawabku. Pandanganku mendadak mengarah pada baju yang sedang dipakai restu. Atasannya kemeja lengan panjang motif bunga-bunga yang digulung bagian lengannya sampai ke siku, sedang bawahnya celana panjang berbahan jeans warna biru pudar, tanda sudah berulangkali dicuci. Busana semacam itu umum dipakai mahasiswi untuk ke kampus di waktu itu.
Sadarlah aku kalau restu baru pulang dari kampus, belum sempat mandi dan ganti baju. Gerak salah tingkahnya saat kupandangi baju dan celananya tambah menguatkan kesimpulanku. Aku tersenyum melihatnya dan mulai optimis menguasai suasana dan pembicaraan. Gadis anggun macam Restu, semalam ini kok belum mandi pasti merasa gak percaya diri.
"Aku tadi juga pulang kesorean tak seperti biasa. Hari ini aku meski mengumpulkan laporan, jadi ngebut tadi mengejar deadline dan ngejar-ngejar asdos (asisten dosen). Kamu baru pulang praktikum ya? Tadi si Ica cerita", kataku mencoba menghiburnya dengan sebuah kalimat pemakluman.
Restu mengangguk dan menunduk malu, percaya dirinya sedang di ambang kritis. Akupun semakin menguasai suasana.
Gayung Bersambut
"Kamu mau mandi dulu?" tanyaku.
Tanpa kusangka, diangkat wajahnya dan ditatapnya tajam mataku dengan matanya yang lebar itu. Aku bertanya-tanya dalam hati. Lhah kok malah melotot?
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176