Tisna tertawa mendengar gerutu balasanku atas sindirannya.
"Iya ma'af, habisnya pada nggak bener gitu bikin rencana acara ! Ya aku nggak bisa diemlah..." katanya masih saja berargumen.
"Okelah, see you ya...!" kataku sambil melambaikan tangan.
"Eh, Ik ! Tunggu !" seru Tisna mencegah kepergianku.
"Kasih aja motormu ke Yuna, biar kamu tak anterin !"
"Weh, lha pulangnya nanti ?"
"Ya nanti suruh njemput Yuna, dia lagi butuh motor tuh kayaknya tadi".
"Terus, emang kekejar waktunya ?"
" Nih, takpinjemin hape, kamu telepon aja operator yang shift pagi ! Bilang nanti nyampenya agak telat, ntar biar tak kasih uang tips orangnya."
"Boleh juga..."
Kuambil hape yang disodorkannya, lalu kutelepon Mbak Dewi, operator shift pagi wartel tempat kami kerja. Kutekankan janji pemberian tips si Tisna dan disambut riang suara Mbak Dewi di hape. Tisna kembali kasak-kusuk dengan para anggota genknya yang masih enggan meninggalkan ruangan. Uma, Septi dan Mitha yang seangkatan, lainnya mahasiswi angkatan satu tingkat di bawah kami.
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176