"Itulah yang bikin kamu lambat berpikir".
"Gara-gara nggak punya pacar ? Kesimpulan macam apa itu ? Huh !"
"Bukaaan sayaang..., karena terlalu serius. Terlalu studi oriented kamu, kadangkala justru bikin kamu malah jadi bodoh."
"Eh, jangan sembarangan ya ?! Nilaiku bagus-bagus aja..."
Aku tertawa mendengarnya, yang diketawain mulai mengernyitkan dahi.
"Jangan salah paham dulu dong... Kecerdasan itu bukan IQ saja, ada banyak macemnya. Dan kehidupan itu luas sekali, ada begitu banyak variabel keilmuan di jagad raya ini kawan".
Wajah Tisna kembali normal, tampak mulai tersungging senyumnya.
"Gitu ya Ik ? Iya juga sih... Sebetulnya kalau mau, aku malah gak sekedar pacaran Ik".
"O ya ? Udah ada calon suami rupanya ?!" seruku. Ganti aku yang kini terbelalak, Tisna mengangguk mengiyakan.
"Justru karena itulah aku pilih studi oriented."
"Maksudnya kamu dijodohin ma ortu ?"
- 1
- 2
- 3
- 4
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- 13
- 14
- 15
- 16
- 17
- 18
- 19
- 20
- 21
- 22
- 23
- 24
- 25
- 26
- 27
- 28
- 29
- 30
- 31
- 32
- 33
- 34
- 35
- 36
- 37
- 38
- 39
- 40
- 41
- 42
- 43
- 44
- 45
- 46
- 47
- 48
- 49
- 50
- 51
- 52
- 53
- 54
- 55
- 56
- 57
- 58
- 59
- 60
- 61
- 62
- 63
- 64
- 65
- 66
- 67
- 68
- 69
- 70
- 71
- 72
- 73
- 74
- 75
- 76
- 77
- 78
- 79
- 80
- 81
- 82
- 83
- 84
- 85
- 86
- 87
- 88
- 89
- 90
- 91
- 92
- 93
- 94
- 95
- 96
- 97
- 98
- 99
- 100
- 101
- 102
- 103
- 104
- 105
- 106
- 107
- 108
- 109
- 110
- 111
- 112
- 113
- 114
- 115
- 116
- 117
- 118
- 119
- 120
- 121
- 122
- 123
- 124
- 125
- 126
- 127
- 128
- 129
- 130
- 131
- 132
- 133
- 134
- 135
- 136
- 137
- 138
- 139
- 140
- 141
- 142
- 143
- 144
- 145
- 146
- 147
- 148
- 149
- 150
- 151
- 152
- 153
- 154
- 155
- 156
- 157
- 158
- 159
- 160
- 161
- 162
- 163
- 164
- 165
- 166
- 167
- 168
- 169
- 170
- 171
- 172
- 173
- 174
- 175
- 176