Mohon tunggu...
Surikin SPd
Surikin SPd Mohon Tunggu... Guru - Ririn Surikin

Terus Belajar

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Rifana

22 Januari 2022   19:50 Diperbarui: 22 Januari 2022   19:52 932
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Novel. Sumber ilustrasi: PEXELS/Fotografierende

Putusan pengadilan pun sudah putus. Bunda akan menginap di penjara. Harus menanggung akibat dari perbuatan yang tidak bunda lakukan. Harus membayar mahal , suatu pengalaman kerja. Dana hibah yang membawa bunda ke penjara.  

Hari-hari tanpa bunda terasa begitu panjang. Sebagai seorang anak yang beranjak dewasa tentunya aku perlu bimbingan dan panutan. Aku butuh dua sosok dalam hidupku. Memang ayah tak kurang perhatian,tetapi disatu sisi jiwaku merasakan ada yang hilang. Kasih sayang seorang bunda.. yang saat ini bisa mengisi kekosongan itu. Seluruh keluarga besarku menyayangiku,  tanteku, bu lek ku dan saudara-saudaraku yang lain , mereka semua perempuan tapi tetap ada ruang hampa di hatiku. Ruang yang tak bisa digantikan oleh siapa pun selain seorang bunda.

Kesedihan mengisi hari hariku. Sesaat mungkin aku disbundakkan dengan pelajaran di sekolah, tersenyum melihat tingkah laku temanku. Tapi bila kembali kerumah kembali aku lesu. Teringat bunda yang jauh diseberang sana.

Kekuatan cinta seorang ayah membuatku mampu bertahan tuk menghadapi ujian. Kalimat kalimat yang menyejukkan selalu ku dengar dari bibirnya. " Mbak... Allah tidak menguji hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya. Mungkin kita dianggap Allah orang yang yang sanggup menerima ujian ini. Kita harus hadapi ini ya Nak. Kita harus ikhlas menerima kenyataan ini. Ayah yakin Mbak kuat . Semoga ujian ini membuat kita menjadi hamba yang lebih dekat dengan Allah." Entah berapa ratus kali kalimat itu ku dengar dari bibir ayah. " aku kuat menghadapi ujian ini kalau bersama Ayah". Bisikku

Aku juga tak mau menambah beban ayah. Sebagai anak sulung kulakukan pekerjaan rumah sebisaku. Ku coba membantu ayah sembari mengisi hari hariku dengan kesbundakan agar tidak selalu teringat dengan bunda.

Sejak kejadian bunda menginap di hotel prodeo, akupun harus berpisah dengan adikku. Adikku dibawa nenek ke pulau jawa, karena di rumah tidak ada yang mengasuhnya. Perasaan sedih yang tidak bisa ku elakkan, setelah berpisah dengan bunda kini aku harus berpisah dengan ayah. Kini tinggalah aku dan ayah di rumah ini. Hari-hari terasa sangat sepi. Tak jarang aku menangis setiap teringat adik dan bunda. Kini hari-hariku lebih sering sendiri. Ayah ku kerja setiap hari hanya hari minggu dia off. Kalau hari minggu kami selalu menjenguk bunda di tahanan. Ku lihat wajah bunda yang siap mengahadapi ujian ini. Beliau lebih pasrah bahwa semua telah  menjadi ketentuan dari Allah. Kita tidak bisa melawan takdir, apalagi bunda seorang yang religius. Hari-hari di rumah tahanan diisi dengan lebih mendekatkan diri pada sang Ilahi. Menambah ilmu agama untuk bekal kembali disana. Bunda selalu berpesan padaku tidak boleh marah dengan keputusan Tuhan. Anggap ini seninya hidup dan melatih kemandirianku. Aku hanya menganggukkan kepala saat bunda mengeluarkan nasihatnya.

Bunda bercerita, mungkin ini juga nikmat Tuhan. Karena selama dalam sel tahanan bunda mempunyai waktu yang banyak untuk mendekatkan diri padaNya. Sering bunda memberikan pengajian pada tahanan-tahanan wanita lainnya. Mengajarkan ilmu agama. Bunda memang selalu punya kemampuan yang  berhubungan dengan pendidikan. Kalau tidak sedang memberikan pengajian bunda selalu membantu memasak di dapur tahanan. Intinya bunda selalu melibatkan diri mengisi kegiatan di dalam rumah tahanan ini. Tidak ada bedanya dengan kegiatan di rumah hanya masalah ruang lingkupnya sekarang lebih kecil.

Hari-hari sepi tanpa bunda kumanfaatkan dengan belajar lebih mandiri . aku dan ayah berbagi tugas. Memasak jadi tanggung jawab ayah, tetapi membersihkan rumah menjadi tanggung jawabku. Mencuci pakaian menjadi tugasku tapi menyetrika kerjaan ayah. Pernah ayah menawarkan untuk loundri saja, tapi aku tidak setuju, kukatakan pada ayah aku juga mau belajar mengurus rumah agar aku terbiasa kelak. Ayah setuju, tapi beliau juga tidak menginginkan aku terlalu capek dalam pekerjaan rumah sehingga tugas utamaku belajar terabaikan. Aku meyakinkan ayah kalau masalah sekolahku tetap ku nomor satukan.

Detik berganti menit, menit berubah jam, jam menggeser hari hari merpacu menjadi bulan, dan bulan pun telah berakhir berganti tahun . Kesbundakan dalam mengisi hari-hari tanpa bunda membuatku mengambil pelajaran dan lebih mendisiplinkan diriku. Ku kerjakan semua ini dengan senang hati. Kadang aku dan ayah saling bercanda kalau ada hal-hal yang kami anggap lucu. Kami pun tertawa bersama sejenak melupakan beban yang menghimpit dada.

Hal paling sedih dan dramatis dalam hidupku ketika waktu puasa tiba. Aku dan ayah hanya berdua menjalankan ibadah puasa. Tidak seperti puasa-puasa sebelumnya selalu ada hidangan lezat di atas meja makan ketika berbuka. Begitu juga waktu sahur bunda selalu menyediakan menu hangat. Tetapi hal itu kini tinggal kenangan. Stelah selesai puasa dan tiba waktu lebaran lebih menyayat kalbu. Saat dimasjid dipenuhi suara-suara takbir aku hanya bisa sesenggukan meratapi nasib. Lagi-lagi ayah yang menenangkanku. Tapi bagiku luka ini terlalu besar susah sekali aku mengobatinya. Luka yang selalu meninggalkan bekas.

Setelah selesai menjalan sholat idul fitri.. aku bergegas membungkus semua makanan dan akan membawa ke penjara dan akan kuserahkan pada bunda. Kami pun bergegas pergi, tak sabar rasanya ingin bertemu bunda. Sesampainya di rumah tahanan aku pun melalui meja pemeriksaan. Diperiksa bawaan yang kubawa lalu diizinkan masuk. Banyak sekali pemandangan haru yang menyayat-nyayat jiwaku. Pemandangan yang tak pernah kusaksikan. Wajah-wajah penuh tangisan.  Banyak tahanan yang mendapat kunjungan keluarganya. Aku pun bertemu bunda... pelukan eratnya langsung kurasakan. Deraian airmata mengalir deras di pipi-pipi kami. " Maafkan Bunda ya Nak." Bisik bunda lembut. Aku tak mampu menjawabnya. Aku hanya menagis dan terus menangis. Perasaan ku begitu tersiksa ketika kalimat itu keluar lagi dari mulut bunda. " Bunda... Aku yang minta maaf karna sampai saat ini aku belum bisa melakukan apa-apa untuk membantu bunda." Jawabku perlahan. Dan kamipun terus larut dalam pelukan. Belaian ayah melepaskan pelukan kami. bunda pun menyalami tangan ayah dan menyampaikan permintaan maafnya. Ku lihat irmata menggenang di empat mata mereka. Lebaran yang tak pernah kubayangkan. Kami melaluinya dari balik jeruji besi. Hari-hari berikutnya ku lalui dengan kehampaan. Sudut hatiku kosong hilang dibawa bunda ke penjara.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun