KUM ini juga disioalisasikan kepada orang tua kami. Apabila orang tua kami sanggup untuk mengikuti peraturan di sekolah ini maka mereka harus menandatanganinya, dan menyerahkan kembali ke sekolah, dan satu untuk pertinggal di rumah. Peraturan KUM ku tempel di kamarku, biar aku selalu membaca dan tidak melakukan pelanggaran, karena pelanggaran sekecil apapun tetap ada sanksinya walaupun hanya satu poin.
Begitu ketatnya peraturan disekolah ini maka setiap bulan pasti ada orang tua yang dipanggil yang berhubungan dengan masalah anakknya. Tetapi aku yakin semua peraturan-peraturan di buat untuk kedisiplinan kami, kalau kami tidak diikat dengana peraturan mungkin kami akan terlena dengan kebiasaan-kebiasaan di luar sana.
Awal tahun pelajaran dimulai. Kami masuk sekolah dbundalan juli, hari pertama diperkenal dengan Masa Orientasi Sekolah ( MOS ). Kami diperkenalkan dengan keadaan lingkungan sekolah , diperkenalkan dengan guru-guru dan tenaga kependidikan yang lain. Wajah-wajah penuh senyum ku lihat pada guru-guruku. Setelah perkenalan guru-guru kami diperkenalkan pada lingkungan sekolah, sarana dan prasarana sekolah, dan peraturan-peraturan sekolah. Diselingi dengan game-game yang seru membuat hari pertama MOS tidak terasa.
Pada hari kedua MOS diisi dengan kegiatan PBB Â dipimpin langsung oleh kepolisian. Beberapa orang polisi datang kesekolah kami mengajarkan tentang peraturan baris berbaria. Ilmu baru yang kuterima ini sangat bermanfaat , karena selama ini aku hanya mengetahuai yang nampak fisik saja. Tetapi kini langsung praktik dari nara sumbernyadan ahlinya. Ternyata banyak kesalahan-kesalahan dalam instruksi kami selama ini. Dilanjutkan dengan sosialisasi narkoba. Begitu banyak hal-hal baru yang kudapatkan dari Badan Narkotika Nasional ( BNN ). Begitu mengerikan data yang dimiliki oleh BNN tentang remaja dan Narkotika. Dalam hati aku hanya berdoa semoga hal ini tidak terjadi pada diriku " Aku mohon Tuhan" demikian, doaku.
Hari kedua ini kami disuruh untuk menanpilkan potensi diri. Potensi ku dalam membaca puisi akan kupersembahkan. Ketika TK aku memang teliti dalam mewarnai tetapi ketika di SD aku menekuni baca puisi. Bahkan pernah beberapa kali mengikuti lomba , walaupun belum berhasil. Prestasi tertinggiku membaca puisi hanya sampai di harapan satu tingkat kabupaten. Bagiku itu tidak apa-apa. Paling tidak aku harus lebih tekun dalam mendalami puisi. Biar bisa menambah koleksi pialaku di lemari.
Ketika acara tampilan aku membacakan puisi dengan tema bunda. Entah mengapa setiap menyebut satu kata ini hatiku selalu berdebar. Aku selalu teringat tentang bunda yang merupakan payung kehidupanku. Orang yang sangat baik, sangat berjasa dan tanpa pamrih pada anaknya. Bunda yang penuh pengorbanan dalam mendidik kami. Berani bertaruh nyawa ketika melahirkan anak-anaknya. Â Krtika kusebut judul puisi " Bunda " totalitasku dalam membaca kata perkata muncul. Ekspresiku mengalir dengan sendirinya. Suara sedih mengiba dalam panggilannya.
Tanpa kusadari, puisiku telah berhenti berakhir dengan satu kalimat. " Bunda engakulah makhluk paling sempurna." Aku sangat terkejut mendengar tepuk tangan yang gemuruh. Sesaat baru tersadar kalau puisi yang kubacakan telah selesai. Aku tertunduk malu dan mengucapkan terimakasih. Begitulah hari kedua MOS terlewati dengan penuh kenangan.
Hari ini adalah terakhir terakhir MOS , hari ketiga . saat ini kami akan dibagi menjadi beberapa kelas. Setauku kami kelas satu berjumlah seratusan orang. Tepatnya aku tak tau. Tapi jumlah tersebut akan dibagi menjadi empat kelas. Aku berharap pada pembagian kelas kali ini aku bisa sekelas dengan Rinanda. Teman baru yang ku kenal sejak hari pertama orientasi. Walaupun kami tidak berasal dari SD yang sama, tapi kami telah akrab. Rinanda anaknya sangat ceria. Dalam waktu tiga hari aku yakin Rinanda lah yang paling banyak mendapatkan teman. Anak yang supel itu merupakan anak salah seorang guru di sekolahku. Tapi anehnya Rinanda mengatakan kalau bundanya tidak mau mengajar Rinanda dan berusaha untuk menghindarinya. Alasannya karena bundanya takut tidak bisa objektif ketika memberikan nilai pada Rinanda. Satu alasan yang masuk akal dan bisa diberi acungan jempol.
Selain anak yang ceria Rinanda juga anak yang baik hati, dia selalu memberiku roti ketika kami baru ketemu. Bundanya selalu membekalinya roti, tapi Rinanda tak pernah memakannya, katanya sudah bosan setiap hari selalu sarapan roti. Akupun menyantap roti-roti yang diberikannya. Bagiku roti bakar buatan bunda Rinanda sangat luar biasa rasanya.
Keinginanku dikabulkan Tuhan. Ketika pembagian kelas aku satu kelas dengan Rinanda. Kami pun berpelukan dan sangat senang. Aku duduk dikelas 7 C dan berjumlah 27 orang. Wali kelasku seorang perempuan anggun yang bernama Bu Anisa.
Bu anisa menyapaku di pagi ini. " Selamat pagi mbak ana? "tuturnya. Aku pun heran dari mana Bu Anisa tau nama panggilanku. Aku menjawab dengan penuh semangat " Selamat pagi Bu". "Bunda apa khabar" lanjutku " Alhamdulillah sehat mbak". Jawabnya. Lalu kami berjalan bersama menuju kelasku.