Mohon tunggu...
Tia Cantika Rizkia
Tia Cantika Rizkia Mohon Tunggu... Lainnya - XII MIPA 5

Selamat Membaca!

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Transmigrasi Jiwa Elvia

16 Februari 2022   19:42 Diperbarui: 18 Februari 2022   15:26 4404
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kini ruangan mulai kembali hening. Hanya menyisakan Via dan seorang wanita yang baru saja datang tadi.

"Kamu ternyata punya nyawa banyak sekali. Kapan kamu mati, Via?" Tanya wanita itu membuat Via mengernyitkan keningnya. Ia bahkan tak mengenal siapa wanita di sampingnya ini. Via sama sekali tidak tahu.

"Anda siapa? Kenapa berbicara seperti itu?"

Terdengar tawa mulai menggema. Membuat Via semakin menatap heran.

"Via, Via. Seharusnya setelah kejadian itu kamu tidak ada di dunia lagi," ucapnya membuat bulu kuduk Via merinding entah kenapa.

Lalu dirasakan rambutnya ditarik begitu kuat. Membuat pusing di kepala nya yang semula hilang datang kembali begitu cepat. Via memegang tangan yang menarik rambutnya itu dengan erat. Berusaha melepaskan nya, tapi Via tidak begitu kuat. Ia masih lemah.

"A- Anda ini siapa? Berani se- kali menarik rambut saya," ucap Via terbata. Ini benar-benar begitu menyakitkan, sungguh.

"Kamu amnesia atau sedang melakukan drama?" Tanya wanita itu dengan sedikit memajukan wajahnya pada wajah Via.

Napas Via tak beraturan. Ia mencoba untuk tidak merasakan sakitnya, namun tetap tidak bisa. Kepala nya semakin pusing. Dan untung saja, beberapa saat kemudian wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu menurunkan tangannya.

"Via, asal kamu tau. Ini baru permulaan. Saya tidak akan biarkan kamu yang menjadi pewaris kekayaan Ayah kamu." Wanita itu tiba-tiba tersenyum, nampak terlihat begitu menyeramkan. Apalagi setelahnya ia berbisik pada Via, "Dan tentunya kamu harus mati terlebih dahulu."

Via semakin bergidik ngeri, tentu nya setelah wanita bermulut iblis itu pergi keluar dari ruangannya. Napas Via terasa sesak menahan napas kala berkali-kali mendengar kalimat dirinya harus mati. 

Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun