“Mel.. Mel..! Ameeeelllll..!!” suara Faris yang bernada cukup tinggi membuyarkan lamunanku.
“Eh, Faris.. Sudah dateng rupanya.”
“Lo lagi ngelamun lihat apa sih Mel di luar?”
“Lihat cowok ganteng, tapi sudah pergi orangnya.”
“Hahaha sejak kapan peduli sama cowok ganteng?!” Faris hobi sekali menggodaiku.
Selepas waktu makan siang, kedai kami sudah mulai tampak ramai. Aku bersama Dion membagi tugas meracik minuman pesanan pelanggan. Faris, entah kemana dia tadi. Biarlah, dia datang terlalu awal sedangkan jam kerjanya dimulai masih beberapa jam lagi. Mungkin dia sudah tidak betah di rumahnya. Tapi.. Saat aku tak sengaja menoleh ke arah meja tamu bagian tengah, aku melihat wajah Faris berada di tengah-tengah pelanggan. Dia ikut duduk bersama mereka. Mungkin Dion tahu kalau aku sedang mengamati wajah Faris dari kejauhan. Dion memberi tahu padaku kalau Faris sedang berkumpul dengan teman-teman satu tim futsalnya kala dulu mereka masih di sekolah menengah atas.
Kenapa Dion tahu segalanya? Padahal sejak tadi aku tidak melihatnya sedang bicara dengan Faris. Dari mana Dion tahu kalau mereka semua teman-teman futsalnya Faris? Haduh.. belakangan ini kenapa pikiranku jadi aneh dan kacau sendiri. Aku terlalu sering memikirkan hal-hal tidak penting. Apalagi sejak.. Sejak aku sering bertemu dengan Henry. Kepalaku terasa berat, ingin ku letakkan dulu sebentar kalau bisa dicopot dari batang leherku.
"Mel.. Itu krimnya berceceran..!” Dion melotot ke arah tanganku yang sedang memegang gelas tinggi dan sebotol whip krim.
“Astaga..” aku buru-buru membersihkan whip krim yang tercecer keluar dari gelas. Aku sudah kelewatan menyemprotkan krim itu di atas gelas. Ya ampun, aku melamun lagi. Untung bukan di hadapan pelanggan aku seceroboh ini. Eka sigap mengantar minuman yang telah selesai dibuat olehku dan Dion. Aku jadi malu pada Dion, nanti dikiranya aku melamun memikirkan hal yang tidak-tidak. Hmm.. tapi terserah sajalah, dia mau berpikir apa tentangku.
Nyatanya aku memang sedang terbayang-bayang oleh wajah Henry. Aku jadi ingat, aku masih punya sekotak kue lapis keju darinya. Tadi ku letakkan di ruang kecil bawah kolong meja kerjaku. Aku sedikit menekuk punggungku, untuk memastikan keberadaan plastik merah itu. Rupanya Dion masih mengamati tingkahku.
“Apa tuh Mel? Plastik merah..”