Orang waras pasti tahu kalau kedai kami belum buka. Hanya pintunya saja yang terbuka. Kegiatan kami yang sedang berbenah-benah juga terlihat dari luar. Tepat pukul tujuh pagi, pintu kedai kami tutup dan AC pun dinyalakan. Tidak lupa papan open closed dibalik ke posisi open. Aku, Mutia dan Eka sudah berada di posisi kami masing- masing. Hari ini Faris yang bertugas mendampingiku. Biasanya, dia baru tiba pukul sembilan.
Sudah satu jam lebih sejak kedatangan pelanggan pertama di kedai kami. Tumben sekali Henry belum muncul. Jam segini, berarti dia sudah ada di kantornya dan mulai bekerja. Itu artinya pagi ini dia memang tidak akan mampir kemari. Dia juga belum mengirimiku pesan hari ini. Kenapa aku jadi kecarian begini? Apa lebih baik jika aku membuang rasa engganku untuk menghubunginya lebih dulu?
Ya.. tidak apalah.. Toh aku sudah menganggap dia sebagai temanku.
“Pagi Mas Henry, lagi sibuk ya?”
Aku tidak tahu apa isi pesanku tadi merupakan kalimat yang tepat untuk menyapanya lebih dulu.
“Lumayan Mel. Nanti kita bisa makan siang bareng ngga?”
“Bisa, tapi aku keluar duluan lho, setengah dua belas. Kalau kamu jam dua belas kan?”
“Oh gitu ya Mel. Ya sudah ngga apa-apa, nanti kamu mau makan dimana? Aku susul.”
“Aku belum tahu. Nanti ku kabarin lagi ya aku makan dimana.”
Aku mulai curiga lagi, sepertinya Henry bukan sedang sibuk sekarang. Apa mungkin dia tidak mau lagi menyambangi kedai kami karena takut bertemu dengan Mba Lidya? Haduh.. Untuk apa kecurigaanku ini. Kenapa aku jadi penuh curiga kepada orang lain. Tapi tetap saja sejujurnya aku tetap merasa penasaran, ada apa sebenarnya diantara Mba Lidya dan Henry? Aku tidak sabar menunggu kenyataan terungkap.
Sambil menunggu kehadiran pelanggan, aku berdiri termenung menyandarkan tubuhku pada dinding area barista, Eka menghampiriku dari arah meja kasir. Dia berbisik lirih padaku.