Rudi dan anak laki-lakinya siap menolong mengantarkan Ki Nanang dan Ni Sariah. Mereka tidak mengharapkan imbalan meskipun perjalanan sangat jauh. Menempuh 5 jam dari rumah mereka.Â
Mereka mengantarkan dengan kuda besi. Rudi bersama Ki Nanang, sedangkan Ni Sariah dengan anak laki-laki berusia 20 tahun itu.Â
Di sepanjang jalan sepasang lanjut usia yang malang itu, menangis dalam diam. Betapa sakit hatinya mereka secara tidak terlihat oleh mata, mereka mengusir dan membuang keduanya.Â
Sesekali perempuan tua berusia 80 tahun itu mengusap air matanya.Â
Mereka menuju gubuk yang jauh dari pemukiman ataupun desa. Mereka harus melewati jalan tanah kuning yang berlubang dan belum disentuh aspal sama sekali. Melewati hutan belantara. Adapun jalan pintas, mereka harus melalui rawa-rawa yang mana sedalam paha orang dewasa. Rudi dan putranya memilih jalan darat agar tidak melalui rawa-rawa. Lagi pula kendaraan mereka tidak bisa menerobos rawa.Â
*
*
*
Setelah salat Isya, barulah mereka sampai di gubuk tempat tinggal Ki Nanang dan istrinya. Rudi dan putranya beristirahat setengah jam. Kemudian mereka berpamitan pulang menempuh gelapnya malam.Â
Tinggallah Ki Nanang dan istrinya. Di dalam gubuk yang jauh dari kehidupan orang-orang.Â
"Aku menyesal telah melahirkannya," keluh perempuan itu.Â