Beberapa menit berlalu, Nivea merasa sudah membeli semua barang yang berada dalam daftar belanjaan David. Dan sekarang, saatnya untuk kembali ke toko rotinya.
"Ayo Nivea, kita bisa membeli limun disana." ucap Matias yang pandangannya mengarah kepada kedai penjual limun di seberang jalan sana.
"Limun?"
"Ya! Apa kau tidak haus?"
"Hahaha.. Tentu! Aku cukup haus."
"Aku tahu itu, Nivea. Mana mungkin sejak tadi kau tidak merasa haus. Ayo kita kesana sekarang." keduanya kembali melanjutkan langkah yang sempat terhenti.
Kini mereka telah duduk berdampingan, di sebuah kedai yang menyediakan tempat untuk para pembelinya dapat duduk beristirahat sejenak untuk menikmati limun mereka, melepas dahaganya setelah berbelanja di pasar.
"Terima kasih Matias. Kau.... sudah mau berteman denganku."
Dengan senyum terbaiknya, lelaki itu mengangguk, "Tentu Nivea! Katakan saja jika sewaktu-waktu kau memerlukan bantuanku."
20. Dua Lelaki Mencurigakan
Matias telah tiba di perkebunan anggur sore itu, dia berniat menemui tuan Carlos di ruang kantornya. Namun dia kembali mundur satu langkah di balik dinding, saat kedua matanya menangkap keberadaan tuan Benedict sedang berbincang dengan seorang lelaki bermata satu. Lelaki itu mengenakan penutup satu mata layaknya seorang bajak laut.