"Pamitan. Sama ngasih kamu benda kecil item. Mama nggak tau itu apaan. Oh, iya! Dia juga ngasih kamu kertas. Tuh, semuanya Mama taro di samping tipi!"
Dengan segara gue langsung menyambar kedua benda tersebut. Ternyata, apa yang dikasih Ardan adalah sebuah memori card PS 2 miliknya yang sering kami gunakan. Ia juga menuliskan pesan di secarik kertas, 'tamatin game Dynasty Warrior-nya tanpa gue, ya, De! Gue pamit.'
Gue lalu menatap lama ke memori card pemeberian Ardan. Senyum tipis mengembang perlahan. Sesaat, segala momen kebersamaan kami terputar begitu saja dalam kepala layaknya iklan video yang nggak ingin gue skip. Gue ingat, kapan pertama kali gue dan dia ketemu di permainan petak umpet anak-anak. Gue juga ingat, pertama kali main ke rumahnya, nerbangin layangan yang kemudian diomelin neneknya. Lalu banyak momen menyusul secara berentet. Mulai dari selalu datang ke rental PS, ngojek payung bareng, sampai main PS di rumahnya sejak dia dibelikan PS 2 oleh bokapnya. Kini semua itu larut dalam pikiran. Canda tawa kami, raut bahagia kami, segala keseruan kami, gue nggak akan pernah lupa sama momen-momen tersebut. Sekarang, Ardan telah pergi untuk memulai kehidupan barunya di tempat lain. Ini sama seperti game over dalam game, seperti yang dia bilang ke gue waktu itu. Segalanya dimulai dari awal lagi, dari nol lagi. Lalu, di antara semua hal yang sudah terjadi, gue sadar bahwa kehilangan teman mungkin lebih menyakitkan dari pada kehilangan kesempatan main PS. Gue bisa bermain PS kapan pun. Tapi teman sebaik Ardan, belum tentu datang dalam sekali setahun.
***
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H