"Ucapkan mantra ini..." sebuah suara menggema didalam kepala si lelaki.
Bersamaan dengan itu, mulut si lelaki bergerak -- gerak menirukan mantra yang sedang didengarnya . Dalam sekejap, pendeta itu ambruk. Ia kehilangan kesadarannya.
Tanpa menunggu lama, sebelum semua rencananya berantakan. Si lelaki bergegas menuju altar utama kuil. Ia segera naik ke altar. Mengambil patung Dewa Dhushara dan menyimpannya kedalam kain yang diikatkan di badannya. Lalu ia pergi.
***
Beberapa menit setelah kepergian lelaki itu, pendeta Samad terbangun. Ia kaget melihat keadaan Altar yang berantakan. Cawan tembaga jatuh, air suci untuk persembahan berceceran diatas meja altar. Buah -- buahan berhamburan diatas lantai kuil.
"Prajurit..." teriak Pendeta Samad.
Seorang prajurit penjaga kuil bergegas masuk kedalam. Melihat sang pendeta dalam keadaan lemah, ia membopong pendeta itu untuk duduk.
Dengan napas terengah -- engah, Pendeta Samad memerintahkan prajurit untuk membereskan altar pemujaan. Ia tidak ingin segalanya berantakan.
Setelah terlihat rapi seperti semula, ia segera memanggil sang prajurit.
"Prajurit, kemarilah..."
"Iya Pendeta, apa yang sedang terjadi? Siapa yang menyerangmu? Dan mengapa patung Dewa Dhushara lenyap? Apa yang terjadi Pendeta?"