"Aku tidur lama banget ya?" ucap Arthur yang tidak mendapat balasan dari orang yang ia ajak bicara.
Kemudian Arthur menatap orang itu, yang di tatap membalas tatapan Arthur dan tidak di sengaja mata mereka saling bertemu.
"Maaf ya." Lirih orang yang sekarang menundukan pandangannya.
"Untuk?"
"Buat yang dulu, aku mau minta maaf gara-gara aku sekarang kamu gak punya banyak temen."
"Gak apa-apa itu udah berlalu. Lagian juga aku udah maafin kamu dari dulu kok." Ucap Arthur dengan senyumnya.
Tidak ada jawaban lagi, keheningan melanda kedua orang itu. Namun, keheningan itu terpecah saat ada isak tangis dari salah satu orang diantara dua orang itu. Satu orang lainnya mencoba untuk menenangkan yang sedang menangis tersebut dengan sedikit bersenandung kecil.
"Kamu kok bisa sih maafin orang yang udah buat satu sekolah ngebully kamu."
"Semua orang pasti berbuat salah, tidak perlu repot-repot mendengar kata-kata orang karena yang orang bilang tentang kita itu belum tentu semuanya benar. Itu yang Sarah bilang."
Orang yang bersama Arthur seketika tersentak saat mendengar nama Sarah di sebut, bagaimana Arthur bisa tau dan kenal Sarah. Itu yang sekarang ada di dalam otak orang yang bersama Arthur.
"K-kamu tahu Sarah?" Ucap orang itu bergetar.
"Iya dia temen di SMP baru aku, dia juga bilang kalo dia temen kamu pas sekolah dasar Sis." Balas Arthur.