Berbeda dari pendekatan teistik atau spiritual, atheisme tidak memandang penderitaan sebagai "baik" atau "buruk" dalam arti moral yang transenden. Sebaliknya, penderitaan dianggap sebagai realitas netral yang harus dihadapi dengan pragmatisme:
Tidak ada makna intrinsik dalam penderitaan; maknanya sepenuhnya bergantung pada bagaimana manusia menafsirkannya.
Penderitaan sering kali tidak dapat dihindari, tetapi manusia dapat memilih cara untuk meresponsnya.
Pendekatan ini menekankan kebebasan individu dalam menentukan arti dan respons terhadap penderitaan, tanpa merujuk pada kehendak ilahi atau prinsip metafisik.
3. Penderitaan sebagai Masalah Etis dan Sosial
Atheisme memandang penderitaan tidak hanya sebagai fenomena individual tetapi juga sebagai masalah kolektif yang memerlukan solusi etis dan sosial.
Karena tidak ada kekuatan transenden yang akan "memperbaiki" penderitaan, tugas untuk mengurangi penderitaan sepenuhnya berada di tangan manusia.
Hal ini mendorong pengembangan sistem etika sekuler yang berfokus pada kebahagiaan manusia dan kesejahteraan universal.
Tokoh seperti Peter Singer, seorang filsuf atheis, mengajukan konsep altruisme efektif, di mana manusia menggunakan sumber daya mereka untuk meminimalkan penderitaan makhluk hidup secara rasional dan terukur. Pendekatan ini menegaskan bahwa mengatasi penderitaan adalah tugas moral yang harus dikerjakan melalui usaha kolaboratif dan berbasis data.
4. Penderitaan dalam Perspektif Eksistensial Atheisme
Aliran atheisme eksistensial, yang diwakili oleh tokoh seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus, melihat penderitaan sebagai bagian tak terpisahkan dari kondisi manusia. Dalam kerangka ini: