Mohon tunggu...
Cika
Cika Mohon Tunggu... Tutor - ...

No me gusta estar triste . Pecinta "Tertawalah Sebelum Tertawa Itu Dilarang" #WARKOP DKI . Suka menjadi pekerja tanpa melewati titik kodrat wanita

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Drama Karma Mama

16 April 2020   09:57 Diperbarui: 16 April 2020   16:44 483
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Mba resepsionis segera menutupi Bu Shinta dengan selimut hotel lalu ditenangkannya Bu Shinta yang terus-terusan menangis.

Ini bukan kali pertama aku melayani nafsu bejat laki-laki. Tapi kali ini sungguh sangat menyakitkan hati. Sampai saat ini hanya aku, Tuhan dan mereka yang tahu pekerjaanku. Aku merasa sangat kotor tatkala mengingat keperawananku di ambil oleh Rudi. Bertahun-tahun mencoba sembuhkan luka. Bertahun-tahun menunggu kehadiran Rudi yang tak pernah kunjung ada dan bertahun-tahun aku berharap Rudi kembali.

Rudi memang kembali. Ada harap yang sempat tertunda untuk mengikat satu ikat akad. Ada janji yang membuai hati hingga aku tetapkan bahwa pertemuanku dengan Robert adalah perbuatan bejatku yang terakhir. Aku lelah melanglangbuana. Aku lelah melakukan drama tertawa di atas ranjang yang berulang. Aku lelah saat menyadari bahwa keringatku hanyalah hasil sebuah umpat bukan semangat yang teramat kasat.

"Dasar anak setan, dia yang menghancurkan hidupku dulu dan sekarang dia pula yang melenyapkan segala mimpi senyap yang sempat kudekap erat"

"Sabar Bu Shinta. Tuhan punya makna atas segala yang Bu Shinta alami"

"Aku cape Jali. Hidupku selalu begini."
"Kenapa ibu tidak menikah saja?"
"Gila kamu Jali. Aku ini pelacur. Mana ada yang mau nikah denganku. Mereka hanya mau berkawin denganku. Menyemburkan segala hasrat membuncah mereka. Membayarku semau mereka. Aku hanya tempat manusia anjing bersenggama"

"Ibu adalah perempuan baik. Ibu hanya terlalu takut mengalami perbuatan laki-laki seperti kakek dan ayah ibu. Suatu saat ibu akan kesepian. Saat tak ada pasangan yang menemani. Tak ada tawa dan canda anak-anak di rumah. Sungguh Tuhan Maha Pemberi Ampun."

Bu Shinta nangis sesenggukan, rupanya luka yang dia alami terlalu dalam. Tatapan matanya kosong. Ya Tuhan, entah aku harus bersyukur atau hanya ikut meratapi. Kejadian Bu Shinta telah membuatku bisa kembali ke rumah. Aku yang tak pernah mampu dan tak punya biaya tiba-tiba diberi kemudahan oleh Tuhan melalui Bu Shinta. Sementara Bu Shinta yang ada di sampingku terus-terusan menyalahkan dirinya dan sesekali menyeka air matanya lalu melemparkan pandangan ke luar jendela pesawat.

"Jali, tadi katamu kamu punya kenalan yayasan yatim piatu?"
"Iya bu, rumah di Jakarta merangkap yayasan"

"Bawa aku ke rumah ibumu. Siapkan aku seorang anak kecil."
"Ibu Shinta mau adopsi bu?. Mereka tetap tidak sedarah dengan ibu."
"Kalau sedarah hanya dapat membuat Lelah, aku rasa tidak terlalu penting untukku "

*

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun