Sosok kakak yang sangat kucintai.
Ia mengacungkan pedangnya ke arahku, sebelum mengangkatnya tinggi -- tinggi.
Mukanya penuh dengan amarah, seakan -- akan aku bukanlah bagian dari darahnya.
Aku memahami kemarahannya.
Ketika pembantaian warga terjadi, hati orang yang bertanggung jawab akan mengalami kemurkaan yang memuncak.
Aku menyaksikannya sekarang.
Hitungan -- hitungan ajalku semakin mendekat.
Nampaknya semua harus berakhir di sini.
Aku tidak akan menyaksikan Kerajaan Sriwijaya tumbuh berkembang.
Aku akan menyaksikan mereka dari kahyangan saja.
Dan aku tidak perlu lagi turun ke muka bumi.