Seketika Pipi Sherma memerah. Ia pun terdiam. Safira ikut diam. Mereka saling berpandangan. Dan akhirnya Sherma mengangguk perlahan.
“Sejak kapan?!” selidikku tegas.
Sherma masih terpekur dalam diam. Hanya hembusan nafasnya yang terdengar. Entah apa yang dipikirkannya. Mungkin ia merasa kalau dirinya sedang diinterogasi.
“Baru tiga minggu.” Akhirnya ia menjawab, meski lirih, suaranya hampir tak terdengar. Sherma terlihat sedikit gemetar.
“Sudah tiga minggu?!” tanyaku meyakinkan.
Sherma mengangguk lagi. Aku menarik nafas panjang, menahan letupan kecil yang berkecamuk dalam dada. Kemudian, kupandangi Sherma dengan lekat. Sherma menunduk.
“Oh, jadi sekarang Kamu sudah berani pacaran, ya?! Gimana dengan pelajaran Kamu?! Apakah tidak terganggu?! Atau Kamu merasa sudah cukup pintar, hingga tidak perlu belajar dan mendingan asyik pacaran?! Gitu?! Sher, Kamu tahu kan, kalau Kamu belum boleh untuk pacaran?! Kamu harus konsentrasi pada pelajaran kamu!!” ujarku dengan nada meninggi.
“Sherma, denger ya?! Hidup Kamu itu masih panjang, perjalanan Kamu masih jauh, banyak hal yang belum Kamu raih! Mbak gak mau, Kamu gagal dalam meraih cita-citamu. Kamu tahu kan, Mbak Mita, dia harus menikah di usia muda karena kebablasan!!” lanjutku masih dengan nada tinggi. Mita adalah adikku yang nomor dua, dia terpaksa harus keluar dari sekolah dan menikah di usia muda, karena ketahuan hamil.
“Sekarang Kamu masih kelas satu SMA. Masih kecil. Umurmu pun belum genap 17 tahun. Siapa yang membolehkan Kamu pacaran, heh! Pokoknya Kamu tidak boleh pacaran!”
Sherma semakin menunduk. Bulir-bulir bening mengalir dipipinya.
“Camkan itu!” Aku mengultimatum. Lalu beranjak keluar dari kamar Sherma. Tapi belum sampai aku di pintu, tiba-tiba Safira memanggilku.