Selanjutnya, pada taraf kegilaan, maka seluruh ketidaktahuan apa berakhir dalam hasrat untuk pengetahuan. Ia menjadi bola api yang siap membakar hal-hal yang dianggap sudah final dan mutlak.
Kita melihat pertumbuhan tubuh semakin dekat dengan eporia penggandaan yang berlindung di balik perubahan palsu. Apa-apa yang menjadi penantang tubuh melebihi orgasme penikmat hanya seonggokan tubuh tanpa nafsu.
Melihat ke bawah permukaan tubuh, entitas metafisis bertambah keunggulannya melampaui kekuatan instingtual. Tidak bermanfaat bagi pembentukan sistem makna dalam mengusung obyek tanda kritis, jika yang lahir hanyalah pendaur-ulangan kepengecutan. Subyek memiliki pabrik (fungsi ekonomis) berbenturan dengan materialitas gagasan (pabrik). Tujuan besar ditopang oleh kenikmatan, bahwa teror ketakutan yang dipulihkan melalui rekayasa (ingin cantik lewat bedah plastik ditambah mekanisme tubuh ).
Pada akhirnya, kesenangan besar kita berarti menandakan suatu kepemilikan suprabahasa atas kuasa diri. Dari pembelukan tubuh mekanis, maka lintas krisis, adaptasi, kontradiksi dan pembujukan pikiran yang mendatangkan nilai kepuasan interior yang disebut ”pengabstraksian cita rasa optimal.”
Selanjutnya, gestur tubuh mengikuti selera. Dari pemahaman tentang tubuh itu sendiri dimatangkan dalam kekerasan simbolik.
Karena itu, berdasarkan tanda, maka setiap permainan hanyalah permainan. Sepanjang hal itu terkait dengan cita rasa paling tinggi, maka tubuh tetap menemukan dirinya berdasarkan sudut pandang yang dimainkan di ruang kosong.
Tidak jauh berbeda dengan hasrat manusia purba, pra-teknologi yang telah lebih rendah daripada manusia primitif sebagai nenek moyang lompatan raksasa, dimana aliran hasrat tidak lebih dari mekanisme keintiman, ketika kita memandang tanpa jarak lagi pluralitas cita rasa manusia, menjauhi arus-arus libido propetik berdasarkan tanda kegairahan yang tersembunyi. Benda-benda yang dicitrakan bisa membayangi taraf pembacaan atas teks.
Tubuh dikuatkan dengan teks tertulis. Suatu ingatan melalui tubuh menandai pergumulan tanda yang tidak tertukarkan. Tubuh terkurung dalam tubuh itu sendiri.
Hasrat yang menubuh yang menggoda (seksualitas). Tahapan tanda, yaitu memilih sesuatu tanpa tekanan apapun dan mempertanggungjawabkan dari apa pilihan hidupnya.
Pasalnya, pilihan akhir di ujung ’kekerasan tulisan’ adalah ketidakhadiran pembacaan padanya. Padahal hasrat otomat sudah terlibat setengah mati dalam ruang tulisan.
Alur-alur pemikiran modern mempersilahkan para Tuan berkubang di dalam ’penubuhan di ruang kosong’. Belajar dari perlawanan esensial untuk menimbang lagi apa kemiripan remeh dari ’hantu nasib’, terpecah-pecah dan tersedot dalam suatu titik rawan ’permainan tanda yang terkondisikan’, dimana tubuh muncul kembali dalam bentuknya yang baru.