Berbeda dengan upaya yang tidak diukur dengan benda-benda, maka mengubur kelesuhan jiwa, menguapnya hasrat, dan melaratnya mimpi, berakhir ketika ruang benda-benda dan citra cermin mengambil tempat yang tidak dapat melepaskan dirinya dari pengurungan ringan dari fragmen besar manusia begitu rawan tetap banyak belajar tentang dirinya.
Bahwa ia dianugerahi jiwa yang tersembunyi selain ketajaman penciuman. Jiwanya telah ditiupkan suatu semangat untuk mengenal lebih dekat dirinya melalui ketidakadiran makna dari ’petanda transendental’. Semakin banyak jenis binatang dinamai, maka tidak akan sama dengan rahasia ruang kehidupan.
Betapa sangat ”nyata,” tubuh menjadi titik tolak bagi citra, halusinasi, dan dengan benda-benda yang mengeliling kita.
***
Melalui sebuah perpaduan alamiah, nama binatang memiliki pergerakannya sendiri, tetapi manusialah yang mengejar bayangan binatang.
Bukankah makan, bercumbu hingga berkelahi atau membunuh merupakan tabiat manusia yang sama dengan binatang?
Dalam pemikiran modern, ada sekawanan binatang memasuki relung-relung jiwa ketika kita lengah sedikitpun. Binatang buas dilepaskan dalam diri kita setelah kita terbangun dari mimpi buruk, yang tidak ada lagi tatapan ke binatang-binatang yang mengagumkan penampilannya bagi khayalan.
Hal-hal yang esensial bercampur-aduk dan saling memisahkan dirinya ketika kita kembali kepada rahasia takdir.
Nah, memang penulisan subversif atas tubuhnya sendiri. Satu-satunya inti pengingkaran tubuh adalah hasrat ekonomi dalam taraf pembacaan.
Di sinilah, satu hal yang perlu diperhitungkan menyangkut keindahan dan pengetahuan tidak lain adalah ketidakpuasannya pada kondisi apapun, oleh karena seni erotis membekalinya untuk senantiasa berpikir kejam, sekalipun dia tidak menghembus-hembuskan keindahan dibentuk oleh musik, seni rupa dan citra tubuh secara luas dari sesuatu dianggap abstrak kembali terasa pahit dan cekung.
Dari pelajaran tentang khayalan, maka ketidakpuasan pikiran manusia itulah menandakan kekuatan-kekuatan ”demonik” (jahat) menghilang dan muncul kembali dari Descartes sampai Popper. Ingar-bingar pikiran tidak berhenti sampai di teks atau manuskrip setelah ”bulan madu” memulai titik permulaan ’Zaman Hasrat’.