8. Perkembangan Akhir Zaman Pertengahan
Pada akhir zaman pertengahan (1300-1500), para alkimiawan seperti Flamel berkonsentrasi pada pencarian batu filsuf dan eliksir kehidupan (elixir of life). Kiasan dan simbolisme dalam tulisan mereka menimbulkan berbagai penafsiran. Kebanyakan alkimiawan pada periode ini menafsirkan pemurnian jiwa sebagai transmutasi timah menjadi emas. Mereka sering kali dianggap sebagai tukang sihir dan mengalami penyiksaan karena praktik mereka.
Tokoh terkenal seperti Tycho Brahe juga memiliki laboratorium alkimia. Heinrich Cornelius Agrippa, seorang alkimiawan yang percaya bahwa dirinya mampu memanggil makhluk gaib, menghasilkan tulisan-tulisan yang menjadi acuan bagi para alkimiawan sesudahnya. Agrippa mengubah alkimia dari filsafat mistis menjadi praktik okultis, meskipun ia tetap seorang Kristen.
Alkimia di Eropa Zaman Pertengahan adalah proses asimilasi dan pengembangan pengetahuan dari tradisi sebelumnya. Para alkimiawan mengintegrasikan elemen-elemen dari berbagai tradisi dan berusaha mendamaikan filsafat dengan teologi Kristen. Eksperimen ilmiah dan pemikiran rasional mulai mendapatkan tempat yang penting dalam tradisi alkimia, meskipun tantangan dari gereja dan perubahan iklim sosial-politik sering kali menghambat perkembangan tersebut.
K. Alkimia di Zaman Modern dan Renaisans
Pada Zaman Modern dan Renaisans, alkimia Eropa mengalami perkembangan dan transformasi yang signifikan. Alkimia terus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan munculnya tokoh-tokoh penting yang berkontribusi pada evolusi disiplin ini.
1. Penipuan dan Penyimpangan
Era Renaisans menyaksikan maraknya penipu yang menggunakan trik kimiawi dan sulap untuk menunjukkan "transmutasi" logam biasa menjadi emas. Mereka sering mengklaim memiliki pengetahuan rahasia yang, dengan sedikit investasi awal, akan membawa hasil yang diinginkan. Penipuan ini mencoreng reputasi alkimia dan membuatnya sering kali dianggap sebagai praktik yang tidak ilmiah.
2. Philippus Aureolus Paracelsus
Salah satu tokoh terpenting pada masa ini adalah Philippus Aureolus Paracelsus (Theophrastus Bombastus von Hohenheim, 1493--1541). Paracelsus memberikan bentuk baru pada alkimia dengan menolak sebagian okultisme yang telah berkembang selama bertahun-tahun. Ia mempromosikan penggunaan pengamatan dan eksperimen untuk mempelajari tubuh manusia, sebuah pendekatan yang jauh lebih ilmiah dibandingkan dengan metode-metode sebelumnya.
Paracelsus menolak tradisi Gnostisisme tetapi mempertahankan sebagian besar filsafat Hermetis, neo-Platonis, dan Pythagorean. Meskipun demikian, ilmu Hermetis yang dipelajarinya tetap mengandung banyak teori Aristotelian sehingga penolakannya terhadap Gnostisisme hampir tidak berarti. Paracelsus juga menolak teori-teori sihir yang diajukan oleh Agrippa dan Flamel, dan ia mengecam orang-orang yang mengaku sebagai penyihir.