Mata Sura Gentho melotot melihat tubuh Cempluk yang padat berisi. Jakun dilehernya naik turun seperti tengah kehausan. Nafasnya sedikit memburu menahan gejolak yang membuncah di dadanya.
Ketika gadis cantik itu telah dekat dengan cepat ia melompat, dan membungkam mulut Cempluk dengan tangan kanannya. Tangan kirimya melingkar di pinggang gadis itu dengan kuat.
"Jangan teriak !! Jika kamu ingin selamat. !!" Kata Sura Gentho, sambil mendorong Ceplok ke suatu tempat.
Cempluk yang menyadari bahaya tengah menerkam hidupnya, ia segera sadar. Sura Gentho hendak memaksa dirinya memuaskan nafsu kejantanannya. Sedikit banyak ia diajari cara praktis lepas dari sekapan oleh bapanya. Ia injak jari kaki Sura Gentho dengan tumit sekuatnya.
"Aduh. Setan kau Cempluk." Jeritnya kesakitan.
Sebuah kesempatan terbuka bagi Cempluk, ia gerakkan sikunya dengan keras menyodok dada penyekapnya. Tangan Sura Gentho terlepas, Cempluk segera lari sekuatnya.
Dengan sedikit pincang karena rasa sakit di kakinya, Sura Gentho lari mengejar Cempluk. Cempluk berhenti sejenak mengambil batu, mengancam Sura Gentho hendak menimpuknya.
"Kau tak akan bisa lari dariku Pluk. Telah lama aku tergila-gila kecantikanmu. Andai kulamar kau tentu tak mau. Paman Menggala juga tak akan mau menjadikan diriku menantu. Jalan ini satu-satunya yang bisa aku tempuh. Menyerahlah." Kata Sura Gentho.
"Aku nggak sudi jadi isterimu. Buaya darat !!!" Cempluk melempar batu di tangannya. Dengan sigap Sura Gentho menghindar, dan mengejar lagi Cempluk yang tengah berlari.
Dari belakang, jarak beberapa tombak, seorang pemuda menyaksikan adegan kejar-kejaran itu dari atas punggung kuda. Ia segera menyentuhkan tumitnya pada perut binatang itu, si kudapun kian mempercepat larinya.Â
Dengan sigapnya pemuda itu menyilangkan kudanya menghadang lelaki yang mengejar si gadis. Kuda itu mengangkat kaki depannya sebentar, saat telah turun menyentuh tanah kaki depan kuda itu, si pemuda melompat turun dari punggungnya.