Maheswara yang melihat Varthasur terbakar merasa bahwa pertarungannya belum selesai. "Ini belum selesai, pasti ular ini memiliki kekuatan lain. Bagaimana kalau aku tebas dia sampai menjadi dua. Ah ya ayo lakukan itu." sementara Maheswara merencanakan strategi, Varthasur yang terbakar sudah sepenuhnya pulih kembali.
"Sshhh grrr aaahh!" Varthasur kembali menembakkan bisa nya yang beracun ke segala arah.
"Cih aku tidak suka serangan ini. Ayo kita coba itu. Hmm..." Maheswara menguatkan kuda-kuda nya, berkonsentrasi mengumpulkan aliran energi ke dalam serangan kali ini. "Tebasan Naga!" Maheswara melompat melesat ke arah Varthasur, mendaratkan Tebasan Naga yang berhasil memotong tubuh Varthasur menjadi dua. "Hmm berhasil kah?"
"Tidak, belum. Varthasur tidak akan kalah semudah itu." gumam Raja Astrasoca yang menonton dari balkon istana.
"Lantas bagaimana caranya mengalahkannya Baginda?" tanya Sang Jaka.
"Mahasanga Asura. Kalau Maheswara ingin menghabisi Varthasur, dia harus memakai itu. Tapi dia tidak boleh bergantung terus pada Mahasanga Asura. Senjata itu berbahaya." terang Raja Astrasoca.
"Mahasanga Asura? Berbahaya?" tanya Sang Jaka.
"Mahasanga Asura, semakin sering senjata itu digunakan. Maka umur pengguna nya akan semakin berkurang. Sejatinya senjata itu adalah senjata terkutuk." jawab Raja Astrasoca.
"Terkutuk. Mengerikan sekali, tapi aku sudah menyuruh Ki Wiryo untuk membantu Paman Maheswara. Aku harap itu membantu." ujar Sang Jaka.
"Hmm aku harap begitu."
Maheswara yang masih berada di dekat mayat Varthasur terus memperhatikan nya, firasat nya tidak enak. "Ini belum berakhir kan? Hmm? Ada sesuatu yang tumbuh dari mayatnya." Maheswara mengambil langkah mundur.