Dalam era digital, keseimbangan antara etika dan profesionalisme menjadi semakin penting. Azra menyadari bahwa dengan kemajuan teknologi dan munculnya platform digital, distribusi informasi menjadi lebih cepat dan lebih luas. Namun, hal ini juga menimbulkan tantangan besar terkait dengan berita palsu, disinformasi, dan sensasionalisme.
Dalam konteks ini, Azra sering menekankan bahwa jurnalis harus semakin waspada terhadap dampak sosial dari berita yang mereka sampaikan. Di era media sosial, di mana berita dapat dengan cepat menyebar tanpa verifikasi, jurnalis yang profesional harus lebih berhati-hati dan memastikan bahwa setiap berita yang dipublikasikan telah diverifikasi dan disajikan dengan etika yang tinggi. Tantangan ini menuntut media untuk lebih memprioritaskan kualitas berita daripada kecepatan, serta menjaga keseimbangan antara menarik perhatian audiens dan menyampaikan kebenaran yang faktual.
6. Etika Jurnalisme dalam Perspektif Islam
Azra juga menyoroti bahwa jurnalisme Islam memiliki dimensi etis tambahan yang berkaitan dengan nilai-nilai keislaman. Jurnalis Muslim, menurutnya, harus memastikan bahwa mereka tidak hanya mengikuti standar profesionalisme yang umum, tetapi juga harus mematuhi prinsip-prinsip Islam seperti kejujuran, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dalam pandangan Azra, etika Islam mendukung kebebasan pers yang bertanggung jawab dan mendorong media untuk menjadi agen perubahan sosial yang positif. Jurnalis Muslim harus menjunjung tinggi prinsip al-akhlaq (moralitas) dalam setiap tindakan mereka, dan ini termasuk dalam aktivitas jurnalistik. Selain itu, jurnalisme Islam harus mengedepankan nilai-nilai persatuan dan toleransi, serta menolak segala bentuk ekstremisme yang dapat memecah belah umat.
Dengan demikian, bagi Prof. Azyumardi Azra, keseimbangan antara etika dan profesionalisme merupakan landasan penting dalam membangun jurnalisme yang bertanggung jawab. Etika memberikan jurnalis landasan moral untuk menyaring informasi dan menyajikannya dengan integritas, sementara profesionalisme memastikan bahwa mereka memiliki keterampilan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas tersebut dengan efektif. Dalam dunia yang semakin kompleks, terutama dengan adanya tantangan di era digital, keseimbangan ini menjadi lebih krusial untuk memastikan bahwa media tetap menjadi pilar penting dalam menjaga kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan.
Keseimbangan ini adalah kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap media, memastikan informasi yang akurat, dan mempertahankan jurnalisme sebagai alat perubahan sosial yang positif.
Mendirikan Studia Islamika: Jurnal Ilmiah untuk Kajian Islam
Mendirikan Studia Islamika merupakan salah satu kontribusi besar Prof. Azyumardi Azra dalam mengembangkan wacana intelektual dan jurnalisme Islam di Indonesia. Dengan mendirikan jurnal ini, Azra berhasil membangun ruang akademik yang memungkinkan kajian Islam di Indonesia dan dunia Islam lainnya dipelajari secara mendalam dan ilmiah. Langkah ini mencerminkan visinya tentang bagaimana jurnalisme Islam yang intelektual dan akademis dapat memainkan peran penting dalam memperluas pemahaman terhadap Islam secara lebih progresif dan moderat.
Dalam hal ini ada beberapa penjelasan tentang pendirian Studia Islamika dengan jurnalisme Islam dalam pandangan Azyumardi Azra yaitu:
1. Mendorong Kajian Islam yang Kritis dan Intelektual