Mohon tunggu...
Silvia Aprilia
Silvia Aprilia Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar

for school

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Buku sebagai Pendamping Hatta dalam Perjuangan Kemerdekaan

4 November 2021   16:00 Diperbarui: 4 November 2021   17:30 316
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Selamat malam tuan Meda, diluar dingin sekali jadi saya membawa mantel dua", kata Hatta, basa-basi sebelum merusmuskan naskah proklamasi.

"Benar sekali, silahkan masuk. Soebardjo sudah ada di dalam, edangkan Soekarno masih di jalan sepertinya", kata Meda sambil membuka tangannya lalu menunjuk arah pintu masuk, isyarat bahwa dia menyuruh masuk dan menemui Soebardjo. Lalu tak lama datang Soekarno dan segera masuk kedalam menemui Hatta dan Soebardjo. "Terimakasih atas rumah Tuan yang sedia untuk dijadikan sebagai tempat pembuatan naskah proklamasi", kata Soekarno sambil duduk.

"Tidak masalah, kalau begitu saya izin masuk kamar. Silahkan saja kalian di sini membuat naskah proklamasi, dan jika butuh sesuatu panggil saja pembantu", kata Maeda mengambil peralatannya dan menuju kamar.

"Keadaan yang mendesak telah membuat kita mempercepat pelaksanaan proklamasi kemerdekaan. Kali ini kita berkumpul disini untuk merancang naskah proklamasi", kata Soekarno. Semua pada malam itu berjalan lancar, tidak ada kesulitan yang dihadapi mereka. Naskah proklamasi pun hampir siap dengan gagasan dari Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo. Dan naskah itu baru selesai pada pukul 3 pagi tanggal 17 Agustus 1945.

"Naskah sudah siap, siapa yang akan menandatangani naskah ini? Apakah semua hadirin yang datang kemari ikut serta dalam penandatanganan ini?"

"Menurut saya itu tidak efektif. Bagaimana jika Atas Nma Bangsa Indonesia?", tutur Bung Karno sambil meletakkan pena nya di meja dan menatap sekeliling para hadirin yang datang. "Setuju, kami sangat setuju bung"

"Baiklah kalau begitu, saudara Sayuti Melik akan mengetik naskah proklamasi"

"Baik Bung, akan saya laksanakan secepat dan sebaik-baiknya", bergegaslah pergi Sayuti Melik untuk mengetik naskah proklamasi.

Semua selesai pada pukul 4.30 pagi, semua pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat sebentar dan mempersiapkan kemerdekaan jam 10 pagi. Moh. Hatta dijemput dengan mobil antik kebanggaannya. Sesampainya di rumah, Hatta langsung memejamkan matanya sebentar. Lalu bergegas mandi dan sarapan. Dia menyuruh istrinya untuk memilihkan baju terbaik yang dia punya. Lalu istrinya mencari baju yang cocok untuk suaminya. Dan adalah satu baju berwarna putih bersih seperti buntalan kapas yang tidak pernah terkena kotoran. Setelah itu, dia langsung menyimpan di gantungan dan menyiapkan keperluan lain untuk Hatta pergi melaksanakan kemerdekaan Indonesia.

Bruumm.. Bruumm...

Suara klakson mobil yang sedang dipanaskan di garasi milik Hatta, dia pun mengelap kaca mobil sambil tersenyum bahagia karena akhirnya pada hari ini Indonesia akan merdeka. Supir Hatta sudah siap mengantarkan Tuan nya menuju lokasi di jalan Pegangsaan Timur Nomor 56. Disana ternyata sudah ramai sekali orang yang akan menyaksikan detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tua muda, kaya miskin, semua berkumpul di lokasi tempat diselenggarakannya proklamasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
  18. 18
  19. 19
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun