"Jangan bergaya, Ca," Gusti menyangka Oca hanya menakut-nakutinya.
"Ada kucing hitam!" teriak Oca.
"Mana?" tanya Gusti.
Oca menyenter kucing hitam itu. Tepat di matanya. Mata kucing itu bersinar membalikkan cahaya senter. Seram sekali. Gusti pun ketakutan. Seperti ada sorot magis dari kedua mata kucing hitam itu.
Pelan-pelan Gusti menutup jendela.Â
Gusti ingat kucing hitam yang hampir tertabrak mobil Ayah waktu hari pindahan. Kucing itu tak beranjak. Berdiri tegak di tengah jalan seakan menantang. Sorot matanya. Sorot mata kucing itu seakan mengabarkan permusuhan.
Ada getar tak enak di hati Gusti. Tapi Gusti tak mempercayai apa yang dilihatnya. Kucing kan hanya binatang biasa. Seperti kucing peliharaan Hana. Selalu menyambut Hana saat si centil itu pulang.
Mereka berdua pun kembali ke kamar masing-masing. Mencoba tidur. Tapi mata tak bisa terpejam. Hingga pagi menghampiri.
***
Sudah dua hari. Ya, dua hari. Mama Gusti termenung. Karena mimpi. Mimpi yang sudah mengikutinya empat malam berturut-turut. Mimpi yang sama. Mama Gusti takut ada sesuatu yang buruk bakal terjadi terhadap keluarganya. Mimpi memang hanya bunga tidur. Mama Gusti tahu itu. Tapi kalau mimpi itu berulang. Maka kekhawatiran itu juga akan muncul juga.
Ingin sekali Mama Gusti cerita tentang mimpinya ini. Tapi selalu saja ragu. Apalagi Ayah Gusti sedang terlihat sibuk dengan usahanya. Tidak tega kalau harus menambah beban pikiran Ayah hanya gara-gara sebuah mimpi.