"Ok," cetus Sivia yang menyusulnya beberapa saat kemudian.
"Aku masih bisa self harm tanpa alat!"
Dengan ngeri, Rossie melihat Sivia menusukkan kuku-kukunya yang panjang berkuteks ke lengannya. Crash...tusukan kuku menggoreskan luka. Sivia masih belum puas.
"Aku ingin luka!" teriaknya, sebelum...
"Please stop doing that, Princess."
Tubuh Sivia menegang. Seorang pria tinggi semampai memeluknya dari belakang. Pria berjas hitam itu berusaha membuatnya tenang.
"Aku ingin luka! Aku ingin luka! Aku ingin luka!" Sivia berteriak-teriak histeris.
Dekapan pria itu bertambah erat. Ditenangkannya Sivia lewat pelukan. Dibuatnya Sivia tak bisa bergerak. Tubuh pria itu, yang jauh lebih tinggi dan berat, berhasil mengunci tubuh Sivia.
"Aku ingin luka! Biarkan aku melukai diriku!" jerit si wanita bermata biru.
"Takkan kubiarkan selama aku masih bernapas." bisik Calvin tepat di telinga Sivia.
Air mata Sivia meleleh. Saat ini, dia sangat menginginkan luka. Namun Calvin tak mengizinkannya. Hanya orang kurang waras yang membiarkan istrinya self harm.