Tembakan itu mengarah ke perampok yang sedang berjaga di pintu luar. Kemudian langsung dibalas dengan rentetan tembakan oleh para perampok. Suasana jadi mencekam. Imron segera memburu sumber tembakan sambil menyelinap di antara tiang gedung bank tersebut.
Kembali tembakan terdengat saling sahut-sahutan. Seorang perampok yang sedang mengamankan di pintu keluar tertempak kaki kirinya.
"Aaarh ...Aku kena!" Teriak pria itu sambil mengerang kesakitan.
Darah segar mengalir deras dari paha kirinya. Dia sempat terjatuh sambil membalas tembakan. Lalu dia berdiri lagi dan dengan menyeret kakinya bergeser ke dinding dekat pintu keluar.
Tembak menembak masih terjadi. Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakang.
"Aaaarh ....aaarh....," terdengar suara mengerang kesakitan.
Ternyata itu suara dari salah seorang satpam bank yang sejak tadi bersembunyi di ruang belakang dan melakukan perlawanan. Tubuhnya bersimbah darah. Bahu kanannya tertembus peluru Imron.
Dengan sadis Imron menyeret pria malang itu dan membawanya ke tengah ruangan, disatukan dengan satpam yang tadi disandera.
"Ini jadinya kalau ada yang berani melawan. Jangan sok jago. Biarkan kami pergi kalau kalian masih sayang dengan nyawa." Ujar Imron dengan nada keras.
Kemudian Imron memberi aba-aba kepada ketiga anak buahnya untuk segera pergi sambil menenteng uang jarahannya. Dua orang temannya ikut membantu membandu jalan anggota mereka yang tertembak menuju keluar.
Keempat gerombolan perampok bank itu lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu. Mobil dalam kondisi mesin menyala dan siap berangkat.