Salah seorang petugas memeriksa urat nadi tangan Imron. Dia juga memeriksa leher dan matanya. Sementara semua sipir tetap mengamati dari luar sel yang ukurannya 2 x 3 meter tersebut.
"Masih ada napasnya. Dia masih hidup. Ayo kita bawa ke rumah sakit," ujar petugas medis tersebut.
Komandan jaga pun menelepon kepala lapas untuk melaporkan kejadiannya. Dia minta izin untuk membawa Imron ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung dengan bantuan pengawalan petugas.
Malam itu suasana Lapas Sukamiskin, menjadi heboh. Imron yang biasanya sehat dan dikenal jago berkelahi terpaksa harus ditandu ke ambulance untuk dibawa ke rumah sakit.
Lapas Sukamiskin, Pukul 23.05 WIB.
Beberapa petugas medis dan keamanan bergegas masuk ke dalam mobil ambulance. Sementara cuaca malam itu tampak kurang bersahabat. Tetesan air hujan  mulai membasahi bumi.
Dengan tangan diborgol dan diinpus, Imron terbaring lemah di dalam ambulance. Seorang petugas medis dan petugas keamanan menemaninya.
Dengan bunyi sirine meraung-raung, ambulance segera bergerak keluar Lapas Sukamiskin. Suaranya memecah kesunyian Kota Bandung yang saat itu diterpa hujan deras. Beberapa warganya tengah tertidur lelap terbuai dinginnya udara malam.
Tanpa sepengetahuan petugas, diam-diam Imron sedang merencanakan sesuatu. Ternyata pria beristri dua yang sedang menjalani hukuman 15 tahun penjara tersebut tidak pingsan, tapi dia pura-pura sakit.
Hmm, ini saat yang tepat buatku kabur, gumam Imron dalam hati. Matanya terbuka sedikit untuk mengintip situasi di sekitarnya. Sementara jemari tangannya sedang mengotak-atik lubang kunci borgol yang  membelenggu kedua tangannya.
Sebuah tusuk gigi yang sejak tadi terselip di resleting celananya coba diraihnya. Usahanya tidak mudah mengingat kedua tangannya masih diborgol.