"Hai Bayu!" Sapa Intan. Pemuda itu membalasnya dengan sapaan: "Hai Intan!"
"Oh ya Bayu, nanti malam bagaimana kalau kita belajar bersama mengerjakan PR Kimia pak Parjo?" Ajak Intan.
"Nanti malam? Waduh aku ada rapat Karang Taruna. Maaf Intan aku mungkin gak bisa, " Kata Bayu agak tergagap menjawab ajakan Intan.
"Iya gak apa apa. Oke Bayu, kalau gitu aku duluan ya!" Kata Intan tersenyum manis sambil bergegas menuju mobil jemputannya yang sudah siap dari tadi.
"Okey Intan!" Kata Bayu sambil menatap sedan BMW hitam itu meluncur mulus meninggalkan pemuda bersahaja itu.
Setiap hari Intan diantar ke Sekolah oleh sopir pribadi keluarganya atau kadang-kadang Intan yang mengemudikan sendiri untuk pergi dan pulang sekolah.Â
Sementara Bayu ke manapun dia pergi hanya berteman sepeda motor Jepang butut dan tua. Ya memang status sosial yang sangat jomplang.Â
Untuk Bayu mengharapkan cinta dari seorang Intan Permatasari ibarat pungguk merindukan bulan. Baginya bisa berteman saja dengan Intan yang kebetulan satu kelas di sekolahnya adalah anugerah tersendiri.Â
Harapan mungkin hanya tinggal sebatas harapan dan Bayu tidak bisa berbuat apa-apa alias pasrah. Pemuda ini selain pendiam ternyata dia juga tidak pernah mau curhat kepada sahabat dekatnya misalnya kepada Anton atau Aang.Â
Bayu malah lebih sering bercengkerama dengan buku hariannya. Semua yang dia rasakan setiap hari dia tumpahkan di Buku Hariannya, sebuah buku kecil ukuran 10 x 14 cm dan tebal 3 cm.Â
Disitulah semua perasaannya  berada. Seperti ketika Bayu bertemu Intan di pelataran parkir Sekolah itu. Â