Dan kemudian hal yang paling membuat Nisa jadi lebih segan padanya adalah, bahwa ternyata dia adalah seseorang yang sangat taat pada agama yang dia anut. Ini bukan berita baik bagi Nisa. Walaupun ya dia gak berharap banyak sih akan dibawa kemana perkenalan mereka kali ini.
"Besok aku jemput di stasiun X ya. Aku mau ajak kamu ke rumah aku." Tiba-tiba ada pesan WA dari Nathan. Dan Nisa seketika menutup mukanya.
"Oh... Aku harus gimana..."
Besoknya dia beneran dijemput Nathan di stasiun X, mereka jalan-jalan, makan-makan, tertawa-tawa, dan kemudian ketika sore hari mereka akan menuju ke rumah Nathan, dia berbicara pada Nisa.
"Terima kasih ya sudah mau jadi temanku. Kamu sangat baik. Aku suka padamu. Aku sebenarnya butuh teman dekat di Indonesia nanti. Karena bagaimanapun juga aku akan lebih sering di sana. Aku gak mengenal seorang pun selain rekan kerjaku biasanya. Sedangkan aku ingin lebih enjoy di sana, lebih bisa membaur, lebih bisa nyaman. Jadi apakah kamu mau, jadi teman dekatku? Agar aku bisa lebih nyaman nanti di Indonesia?" Nathan mengatakan kata 'teman dekat' dengan pancaran mata yang tidak biasa.
Jangan bilang bahwa pada akhirnya mereka saling tertarik. Nisa lama tak menjawab, namun dia memutuskan untuk menyodorkan HPnya.
"Kamu lihat ini."
Nathan yang semula wajahnya penuh senyuman dan harapan seharian ini, mendadak langsung terdiam.
"Jadi... Kamu sudah tau siapa aku?" Dia takut-takut melihat ke arah Nisa.
Dan Nisa mengangguk.
"Tapi aku harap kamu tetap menganggapku sebagai Noel ya, bukan sebagai Nathan yang dikenal banyak orang. Aku ingin dekat denganmu dan menjadi diriku sendiri. Apakah kamu mau?" Harapnya.