“Apaan sih Gung ? Kok tiba-tiba kamu ngomong begini ? Maksud kamu apa ?” tanyaku keheranan.
Agung menarik napas berat.
“Maksudku, soal... kuliah.... teman-teman..... dan …. si Andri ini….,” kalimatnya terputus dan ia menarik napas sekali lagi.
“Apa…?” aku tertegun sejenak. “Ya ampun Gung…. Ternyata kamu sama aja ya seperti ibu dan orang desa lainnya yang nggak setuju aku kuliah di kota ? Astaga…. aku nggak nyangka kamu sekolot itu. Kok kamu nggak bisa berpikiran maju seperti aku sih ? Okelah kalau kamu memang nggak punya uang untuk biaya kuliah. Tapi janganlah kamu ikut-ikutan melarang aku untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi ! Aku nggak mau seperti orang lain di desa ini yang hidupnya hanya dihabiskan untuk bertani dan berkebun saja ! Aku nggak mau itu ! Aku ingin jadi orang berpendidikan yang bisa berkarier demi masa depanku !!” ocehku penuh kemarahan.
Agung tercengang. Mulutnya sedikit terbuka menunjukkan keterkejutannya.
“Sari…. ka... kamu... parah sekali....” ujarnya terbata-bata.
“Apa ? Apa kamu bilang Gung ?” emosiku semakin meninggi. “Aku parah ? Kamu tuh yang parah !! Kamu iri ya, aku bisa kuliah sementara kamu nggak bisa ? Atau..… ooh kamu cemburu ya aku punya teman dekat ? Iya kan ? Andri itu bedaaa sama kamu Gung ! Dia punya cita-cita tinggi, ingin berkarir di Jakarta, ingin sukses, ingin maju ! Nggak seperti kamu yang pola pikirnya primitif !!” bentakku keras-keras tanpa mempedulikan perasaan Agung.
Wajah Agung berubah merah padam. Entah karena marah atau malu karena aku berhasil menebak dengan tepat isi hatinya. Dan tanpa bicara apa-apa lagi ia langsung berbalik dan melangkah pergi.
“Hei Gung ! Agung ! Kok langsung pergi sih ? Heeii !!” teriakku. Agung tak menoleh sedikitpun.
Huhh !! Kutendang-tendang air berpasir di bawah kakiku dengan kesal. Padahal kami baru saja ngobrol akrab lagi setelah sekian lama tidak bertemu. Sekarang malah gagal rencanaku untuk bertanya soal minema padanya. Tapi sudahlah. Mood ku juga sudah hilang.