Berkali - kali saya memanggilnya namun tidak ada balasan sama sekali. Saya mulai mencemaskan nya. Saya telusuri semua sudut yang ada di rumah, di kamar, di dapur, seisi rumah tampak berantakan. Firasat mulai mengusik isi kepala. Saya keluar untuk bertanya, dan benar saja wanita yang saya kagumi tersebut di culik oleh Jepang.
"Mereka membawa dia kemarin malam, tak ada yang bisa membantu karena mereka dalam jumlah banyak dan berbadan besar", ucap salah satu warga yang menjelaskan.
Saya jatuh, saya menangis, saya menyesal meninggalkannya hari itu. Saya kembali ke rumah, tampak secarik kertas terselipit di kursi. Saya ambil kertas itu dan benar saja, tulisan itu tampak tak asing bagi saya.
SOEKARNO
Malam ini saya menunggu kedatangan anda. Sangat dingin diluar namun masih terasa hangat bagi saya. Saya sedih, saya menangis setiap melihat anda pergi dan memperjuangkan sebuah kemerdekaan. Saya harap anda segera mendapatkan kemenangan itu. Saya sangat mencintai anda, perangai yang kuat dan berani...
Fatmawati
Air mata semakin deras, pikiran semakin sempit, saya hanya menyesali kepergian saya dan meninggalkan Fatmawati kala itu. Benar - benar menyesal. Saya hanya terus bertanya - tanya kemana dan bagaimana keadaan Fatmawati sekarang, berkali - kali ucapan doa dan salam untuk menitipkan Fatmawati kepada Tuhan selalu saya ucap.
Pagi itu hanya di isi dengan tangisan dan rasa kekecewaan. Hingga tampak seorang laki - laki datang menemui dan menghampiri saya. Lelaki itu terlihat mengenakan seragam prajurit dan tentu saja seragam itu hanya dimiliki oleh prajurit Jepang.
"You were given an invitation to meet the leader general", kata lelaki tersebut yang tepat berdiri di depan saya.
(Anda diberi undangan untuk menemui pemimpin jenderal)
"Did your troops kidnap Fatmawati?!", pertanyaan yang tak dibalas dengan sepatah kata pun.