“Oo jadi kamu sembunyi-sembunyi suka sama kak Ibram, sembunyi-sembunyi ingin dapat perhatian dia….” Ucap Lusi dan Loli, mereka tahu apa yang baru saja Dea lakukan.
“Maaf, bukan itu maksudku, aku hanya malu.”
“Nah ini masalah kamu. Malu. Kalau kamu ikut teriak-teriak kayak gitu, kak Ibram nggak bakal respect sama kamu. Yang ada malah illfeel.” Kata Loli.
“Terus bagaimana dong?”
“Kamu harus beda, kamu harus tunjukin sama kak Ibram kalau kamu pantas untuk diperhatikan.”
“Caranya?”
“Nih, ikut ekskul teater. kak Ibram kan juga ikut ekskul itu.”
“Hmm bener juga, oke deh aku ikut”, jawab Dea semangat.
Dea tersenyum senang saat dirinya memegang kartu anggota ekskul teater. “Dengan begini aku pasti bisa lebih dekat dengan kak Ibram.” Harap Dea. Tetapi salah, Dea tidak mendapatkan jadwal latihan yang sama dengan Ibram. Dari mana bisa dekat?
“Mungkin kamu harus jadi juara kelas De!” Seru Loli yang pastinya membuat Lusi dan Dea terbelalak. “Iya, juara kelas. Bukankah setiap semester kak Ibram selalu juara kelas. Setidaknya kalau semester ini kamu juara kelas, kamu bisa berdiri di dekat kak Ibram saat Kepala Sekolah mengumumkan juara kelas.”
“Kamu kalau ngomong dipikir dahulu napa sih Lol?” Lusi menyeringai.