Mohon tunggu...
Just Riepe
Just Riepe Mohon Tunggu... Guru (Honorer) -

I am a simple people (Reading, writing, singing, watching, traveling)

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Klappertaart

2 November 2017   12:17 Diperbarui: 2 November 2017   12:38 700
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sepanjang perjalanan, Rey tak berhenti memikirkan tingkah Ratri yang tiba-tiba ngambek. Apa pasal? Aturan kan dia yang harus marah, karena ternyata Ratri sudah punya pacar dan seolah memberi harapan palsu! Alhasil, mereka hanya saling diam. Rey benar-benar tidak tahu harus bagaimana?

 "Kok ke sini?" tanya Ratri sewot. Begitu menyadari Rey tidak membawanya ke rumah Eyang Sasmita, melainkan ke taman.

"Aku hanya ingin semuanya selesai. Katakan, apa yang membuatmu tiba-tiba marah-marah gak jelas?" tanya Rey tegas. Dia memang tidak terbiasa membiarkan masalah berlarut-larut. Semuanya harus tuntas.

 "Justru aku yang harus bertanya, kenapa kamu jutek dan keki sama aku?" Ratri balik menuding.

"Siapa yang jutek? Aku biasa kok!" elak Rey, membela diri. "Aku... aku cuma..." lanjutnya menggantung.

"Cuma apa? Kamu kan yang janji akan ngajak aku ke sana? Tapi, kenapa sampai aku mau balik ke Kalimantan, gak pernah nongol?" desak Ratri, wajahnya semakin merah. "Kamu terpaksa, kan?" lanjutnya sambil menatap lekat ke arah lelaki yang seolah berubah menjadi orang asing di hadapannya.

"Enggak! Aku gak terpaksa, tapi..." Lagi-lagi Rey tidak menuntaskan kalimatnya.

"Tapi, apa?" Ratri tak sabar ingin mendengar penjelasan. Tatapannya tetap tajam ke arah Rey.

Rey merasa salah tingkah. Dia semakin tidak mengerti, kenapa justru dirinya yang kini dipersalahkan? Ah! Perempuan memang ribet! Rutuknya dalam hati. Dia pun memilih duduk di bangku taman, tempatnya biasa kalau berkunjung ke situ. Sementara, Ratri masih berdiri dengan pandangan yang tak pernah berpaling. Rey menghela, meredam kecamuk yang semakin tak karuan.

"Ok, gak bisa jawab, kan? Nyesel aku memintamu ke sana. Ternyata benar, kamu terpaksa!" simpul Ratri. "Sorry kalau aku sudah merepotkan!" lanjutnya, dan bersiap akan pergi ke arah pemberhentian angkot.

"Tunggu dulu, kita belum selesai." Rey bangkit dan menahan Ratri, lalu mengajaknya duduk di bangku itu. "Sungguh, aku tidak terpaksa. Aku... aku cuma gak mau ganggu waktu kamu sama Adam! Kalian pacaran, kan?" jelas Rey. Pandangannya dilempar jauh ke sisi taman, ke arah burung-burung gereja yang terbang berkelompok, lalu menclok di dahan pohon flamboyan yang sedang berbunga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun