[blog ini akan lebih panjang dari biasanya. Not trying to sell my mom's story, tapi aku hanya ingin menyadari kalian, untuk kalian yang masih memiliki Ibu, kalian harus menjaga Ibu kalian sebaik mungkin, karena ibu jauh lebih berharga dari apapun, dan yang paling penting, ibu adalah Pintu Surga paling utama untuk anaknya.]
Satu bulan yang lalu, tepatnya Rabu malam tanggal 07 November 2018 pukul 09.03PM dimana aku sedang berteriak-teriak nangis kencang, belum pernah nangis yang sesedih itu, lemes, gatau harus berbuat apa, karena pada malam itu adalah malam disaat aku menuntun Bunda di nafas terakhirnya.
Saat itu hanya ada aku dan Tante ku (Adik Bunda yang paling kecil), dan juga ada assistant rumah tangga yang ngebantu jagain Bunda dan nemenin aku selama di RS kalau Bunda di rawat, karena aku punya adik yang masih sekolah, jadi Papah setiap malam pulang kerumah dan gantian jaga dengan aku karena aku kalau siang kerja, kebetulan Papah udah pensiun, jadi selama beliau pensiun beliau fokus ngerawat Bunda.
Sedih, lemes, campur aduk rasanya. Saat itu, Cuma pengen Bunda bangun, pengen peluk Bunda terus, pengen ada di samping Bunda terus. Gatau harus gimana ngabarin Papah yang lagi dirumah dan aku rasa Papah saat ditelfon saat itu juga baru sampe rumah karena Papah belum lama baru jalan pulang dari RS.
Kondisi aku yang nangis kejer takut bikin kaget Papah kalau aku nelfon nangis-nangis karena Papah ada riwayat sakit jantung, aku bener-bener bingung saat itu harus ngapain. Pada akhirnya aku minta tolong tante aku untuk telfonin sanak saudara termasuk Kakak-Kakak dan juga Papah, iya saat itu aku cuma nangis dan melukin Jenasah Bunda.
Amat sangat berharap lebih ada keajaiban dimana tiba-tiba Bunda bangun lagi dan ngajak bercanda, Aku merhatiin monitor jantungnya terus dari saat sedang di pompa jantung sampai denyutnya udah mulai hilang, tapi benar-benar berharap ada keajaiban saat itu juga, karena aku percaya Bunda kuat.
Ya, aku teriak-teriak "Bun, ayooo Bunda kuat, Bunda bisa lewatin ini semua", aku pegang kakinya udah mulai dingin, tapi aku pegangin terus dengan penuh pengharapan kalau aku pegang akan kembali hangat, seperti biasa kalau tangan dan kaki mulai dingin biasanya tanda Bunda mau demam, jadi suka Aku pegangin sampai hangat. Tapi kali ini berbeda, Bunda udah cukup kuat melawan ini semua, tepat tanggal 07 November 2018 pukul 09.03PM, Bunda udah gak sakit, Bunda udah sembuh, Bunda udah bisa menghirup udara bebas, udara bersih, dan gak perlu bolak-balik ke rumah sakit untuk kontrol untuk operasi dan untuk terapi lagi.
Adalah ibu yang sangat kami bangga-bangga kan. Beliau orang yang kuat, ya beliau melawan penyakitnya yang cukup parah hampir dua tahun. Penyakitnya yang berawal dari Hypertensi, karena sedikit kelalai-an dan pembuluh darah yang menipis pada akhirnya terjadi lah Pecah Pembuluh Darah (Aneurisme) di Kepala bagian otak kiri.
Penyakit itu harus cepat ditangani karena kalau tidak cepat bisa berakibat sangat vatal, bisa merusak otak, bisa juga merenggut nyawa, karena Otak kita itu tidak boleh terendam darah, itu bisa merusak sel atau jaringan otak (kata dokter).
Penangan pertama yang dilakukan saat itu langsung dibawa ke RS terdekat, dan RS terdekat adalah RS Paru, karena itu bertepatan pada hari minggu jadi staff di RS tidak lengkap jadi Bunda gak bisa di scan kepalanya disana, Tensi darah Bunda sangat tinggi mencapai 240an harus di scan kepalanya karena kesadaran Bunda sudah mulai menurun.
Papah saat dikabari oleh teman-teman Bunda disana akhirnya Papah dan Kakak ku lansung ke Puncak jemput Bunda, sekalian minta rujuk ke RS yang di Jakarta, tapi karena kesadaran Bunda sudah menurun, pihak RS tidak mau kalau copot oksigen dan monitor jadi Bunda harus diantar pakai Ambulance.
Penuh drama, sangat panjang perjuangan untuk mencari Rumah sakit disekitar Jakarta-Bekasi-Depok yang bisa menerima Bunda, kenapa sulit? ya karna saat itu Bunda harus dimasukan ke ruang ICU, semua RS di datangi oleh Papah, dan akubantu telfon-telfon RS dimanapun yang ICU-nya kosong, tapi sangat susah, sekalinya ada biayanya gak sedikit, puluhan juta/hari, karena kami beranggapan dibilang kamarnya gak tersedia karena kami menggunakan Askes(BPJS).
Di tolak sana-sini sampai pada akhirnya kami membawa Bunda ke RS Polri dan dibawa ke IGD terlebih dahulu namun beberapa jam kemudian baru di pindahkan ke ruang ICU.
Dua minggu Bunda dirawat pertama tanpa operasi, hanya di observasi menggunakan obat-obatan, dan ketika udah boleh pulang kami sangat senang, meskipun keadaan Bunda saat itu lupa ingatan karena ada sel otak yang menghitam karena terendam dengan darah, setidaknya keluarga adalah dokter utama untuk menyembuhkannya, dan dua minggu dirumah tiba-tiba Bunda kejang, yang kami sama sekali tidak tau kalau ternyata itu kejang, aku kira itu sesak nafas atau serangan jantung, aku dan Papah sangat kebingungan harus berbuat apa, Oksigen di rumah abis, akhirnya aku dengan penuh kepanikan berteriak-teriak gedor-gedor rumah depan aku yang kebetulan punya tabung oksigen yang masih ada isinya, aku lari-lari ambil oksigen langsung ku pasangkan ke Bunda untuk ngebantu pernafasannya, dan sedikit demi sedikit mulai tenang baru aku dan Papah bawa ke RS, langsung di CT Scan, dan ternyata ada darah yang menekan otak Bunda yang membuat Bunda kejang, dan saat itu lah aku baru tau kalau kayak gitu tuh namanya kejang.
Saat di periksa lebih lanjut, Bunda harus di operasi secepat mungkin, dan itu mnejadi operasi pertama Bunda, pada Bulan February tgl 27 2017. Operasi yang dilakukan adalah pemasangan VP-Shunt di kepala bertujuan untuk membantu memompa darah ataupun cairan dikepala, VP Shunt biasa di pasang ke anak yang sakit Hidrosepalus.
Ya saat itu melihat Bunda kehilangan rambut panjangnya yang ikal, karena harus di botak-in kalau di operasi harus bersih, lemes... ngeliat berdua sama Papah saat Bunda lagi di cukur dengan keadaan Bunda udah lemas, cuma bisa pasrah, nangis-nangis, biasa ngeliat Bunda sangat aktif, selalu memperhatikan penampilan, dan sangat menyukai rambut panjang kini Bunda harus di botakin, tapi ya kalau itu untuk jalan yang terbaik kami terima-terima saja.
Dua minggu di rawat, lalu sudah boleh pulang kerumah, kami sangat berharap saat itu tinggal pemulihan. Namun yang terjadi adalah, hampir satu bulan dirumah, Bunda terjadi penurunan kesadaran dan panasnya sangat tinggi saat itu, demam yang naik turun, akhirnya dibawa ke RS Polri kembali, langsung dibawa ke IGD, dan diperiksa lebih lanjut, dokter berkata bahwa pemasangan selang VP Shunt kemarin masih kurang karena darah yang keluar sangat deras, jadi harus di tambah satu selang lagi, ya kami langsung tungg jadwal operasi, dan itu menjadi operasi ke dua Bunda.
Singkat cerita, Bunda sudah menjalankan tiga kali operasi di RS Polri, saat sudah boleh pulang seperti biasa Bunda Kontrol ke RS ditemani oleh Papah, dan karena di RS Polri alatnya kurang lengkap akhirnya Dokter Saraf disana merujuk Bunda untuk kontrol ke RS Pusat Otak Nasional, karena alat medis untuk menangani penyakit Bunda sangat lengkap disana.
Nunggu Bunda kondisinya agak enakan kami langsung membawa ke RS PON tersebut, dengan bertujuan hanya untuk kontrol, namun yang terjadi adalah saat kontrol, diperiksa dokter langsung menahan Bunda untuk Pulang, karena seperti ada yang aneh dengan hasil operasian kemarin, seharusnya bekas operasi tersebut tidak keras, dan dokter tersebut sangat gemas dan ingin segera membenarkan Operasi-an yang sudah pernah di lakukan sebelumnya, namun terlebih dahulu Bunda di CT-A dulu, CT-A semacam dengan CT Scan, yang membedakan adalah CT-A ini bertujuan untuk melihat ketebalan pembuluh darah, jadi mau melihat apakah ada pembuluh darah yang masih tipis di kepala Bunda. Esok hari kami langsung mendapatkan kabar bahwa ternyata ada pembuluh darah yang tipis dan harus di operasi, kali ini berbeda, bukan pasang VP Shunt lagi, tapi Operasi Clipping untuk menjepit pembuluh darah yang tipis tersebut dengan bertujuan untuk mencegah terjadinya Pecah Pembuluh darah lagi, karena itu merupakan Bom Waktu.
Sedih rasanya setiap Bunda menjalankan operasi dan harus dimasukan ke ruang ICU, karena kalau di ICU, keluarga tidak bisa bertemu langsung dengan pasien, hanya bisa melihat melalui jendela seperti melihat bayi yang baru lahir.
seiring berjalannya waktu, Bunda menjalankan operasi total 12x operasi, 3x di RS Polri dan sisanya di RS PON, bukan hanya karna pecah pembuluh darah, namun karena Operasi yang pertama kali itu membuat infeksi jadi Bunda mau tidak mau harus di operasi setiap infeksinya memburuk.
Papah selalu berkata, fokus dengan kuliah dan kerja agar bisa ngebantu pengobatan atau biaya sehari-hari. Saat awal Bunda sakit, aku sering banget gak masuk kantor, saking gak semangatnya mau kerja, pengen nemenin papah ngurus Bunda.
Bagaimana bisa fokus setiap hari melihat Bunda dengan gurat wajah yang lemas namun tetap berusaha tersenyum jika melihat keluarga, sesekali tangan dan kaki bengkak karena 3-4cairan infus masuk dimasukan ke dalam tubuhnya, bahkan pernah cairan infus tersebut langsung dialirkan ke jantung untuk membersihkan dan cairannya cepat tercerna, dan sesekali hanya bisa berkedip mata atau hanya melirik di sebuah ruangan besar dan dingin yang bernama ICU.
Tapi masukan dari sana sini yang membuat aku sadar, iya aku harus semangat biar Bunda juga makin semangat, terlebih aku selalu ingat perkataan Papah dan aku semakin berfikir mungkin ini cara Allah SWT untuk memberikan ku cara agar aku bisa balas budi ke kedua orang tua.
semakin intropkesi diri, semakin sadar kewajiban sebagai anak (terakhir) dan paling dekat dengan orang tua, apalagi ibu. semakin hari semakin terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, banyak pelajaran yang bisa ku ambil dari sini. ingin terus mencapai cita-cita, ingin membahagiakan orang tua dengan kesuksesannya, dan gak mau nyusahin mereka lagi, dan ya tetap menjadi Githa yang banyak maunya, tapi lebih ke mau membahagiakan mereka.
Bunda udah gak bisa melakukan sesuatu sendiri, kecuali makan, Bunda masih bisa nyuap sendok sendiri, tapi kami lebih senang untuk nyuapin Bunda kalau makan nasi, untuk makanan selingan baru Bunda suap sendiri (untuk latihan) karena tangan Bunda pada awalnya itu lemas untuk bergerak.
awalnya aku melihat Bunda awal sakit amat membuat sedih (ya jelas siapa yang gak sedih kalau melihat Ibu sendiri sakit?
Hanya anak yang bodoh ku rasa), seperti melihat tidak kayak biasanya, tapi pada kenyataanya ya itu Bunda, Bunda yang setiap hari masakin Githa, nyiapin bekal Githa sedari TK sampai Githa kerja, yang setiap hari suka ganti - gantian dengan Papah antar jemput Githa, yang setiap waktu nelfon Githa, yang setiap hari nungguin Githa pulang, yang setiap hari suka ngomelin Githa, yang setiap weekend suka bawain Githa kue kesukaan Githa, Bunda yang perhatian dengan teman - teman Githa.
Bunda yang selalu mempersatukan Githa sama teman - teman lama Githa yang udah Githa lupa, yang setiap pulang dari manapun suka bawain Githa sesuatu, Bunda yang selalu heboh kalo Githa mau jalan-jalan, dan yang selalu membangga-banggakan anaknya.
Bersyukurlah saat itu aku bekerja di tempat yang sangat pengertian dengan kondisiku saat itu, selama Bunda sakit hampir gak pernah datang ontime, selalu datang paling cepat jam 9 (jam masuk jam 08.30am), bahkan sering datang jam 10 dan sesekali datang jam 11, bukan bukan karena telat bangun, tapi ada kewajiban yang harus ku lakukan dipagi hari, dipagi hari aku harus bantu membersihkan Bunda agar Bunda tetap cantik dan wangi setiap hari baru aku baru bisa berangkat ke kantor. Namun pulang pun lebih sering tenggo (on time), sering cuti kalau Bunda tiba - tiba drop atau ada tindakan.
Kalau dilihat dari sisi perusahaan emang bukan karyawan yang patut dicontoh sih hehe, ya sesekali tetap ada saja omongan tidak enak dari belakang, tapi aku tidak mau ambil pusing. jangan salah ya, habis mau bagaimana lagi, aku begitu juga atas seizin atasanku.
semua yang ku lakukan ini bukanlah suatu pengorbanan, karena ada alasan aku melakukannya. aku melakukan ini semua karena banyak pengorbanan yang telah Bunda berikan jauh lebih besar, berlipat - lipat ganda sampai tidak dapat dihitung pengorbanan Bunda hingga aku kini bisa tumbuh dewasa seperti sekarang. Aku berada disini karena Bunda, aku ber prinsip bahwa "Uang bisa dicari, Ilmu bisa di gali, namun kesempatan untuk mengasihi orang tua tidak akan terulang kembali"
"Tuhan memberikan cobaan kepada umatnya dengan cara yang berbeda - beda, dan Tuhan memiliki skenario yang pas untuk umatnya pula" ternyata itu benar adanya.
Namun ada satu yang beliau inginkan tapi beliau tidak sempat melihatnya di dunia ini, aku yang selalu beliau bilang adalah anak kesayangannya, anak terakhirnya, ya dia ingin sekali melihat ada lelaki baik, yang tidak akan melukai hatiku melamar anak bontotnya ini.
Bunda selalu berkata, jangan sedih kalau disakiti oleh lelaki itu adalah suatu tanda bahwa dia bukan yang terbaik. Aku juga sangat menyadari, pilihan Bunda adalah yang terbaik untukku, yang Bunda katakan "tidak baik" ternyata memang bukan yang terbaik, dan yang Bunda katakan "Ya, dia Baik" ternyata memang dia orang baik, sama seperti Bunda memilih Papah untuk menjadi teman seumur hidup Bunda, Papah adalah sosok lelaki yang benar - benar sangat luar biasa merawat Bunda dan anak - anaknya hingga saat ini. Tapi, aku percaya kelak ketika aku sudah dipertemukan dengan lelaki baik itu, itu pasti adalah pilihan Bunda, dan aku akan tetap ngenalin dia ke Bunda:)
Tetapi, saat sudah pulang Bunda tetap melakukan Kontrol ke dokter di PON, ke banyak dokter, dokter Infeksi Saraf, dokter Paru, dokter Bedah Plastik(karena ada luka di bokong), saat kondisi sudah sangat menurun (menurut kami) Papah bertanya kepada salah satu dokter tersebut "Apakah kondisi seperti ini tidak seharusnya dirawat saja?" dokter berkata "ah gak usah, paling ini ngorok cuma karena banyak riyak, ada alat uap kan di rumah?
Di uap aja Pak sehari 2-3x" ya, karena dokter berkata seperti itu kami ikuti kata dokter, dan ketika situasi dan kondisinya menurut aku dan Papah keadaan Bunda sekarang sudah harus dibawa ke RS, ya setelah hampir 3minggu dirumah akhirnya kami berdua memutuskan untuk membawa Bunda ke RS Polri tepat tanggal 04 November 2018, dua hari setelah Ulang Tahun Bunda, jam 10.00PM kami berangkat dari rumah karena kami takut di IGD pasti tidak langsung dibawa ke kamar perawatan, dan pasti Bunda masuk ke IGD yang tidak boleh ada orang luar masuk, ruang tersebut berlebel Restorasi IGD.
Kami takut di IGD tidak dikasih makan hingga pagi, jadi jam makan terakhir Bunda adalah jam 10 malam, dan ya langsung kami bawa. Yap, dugaan kami benar, Bunda masuk ke ruangan berlebel Restorasi tersebut, dan esok harinya (Hari Senin) Bunda dipindahkan ke ICU.
Awal mendapat kabar bahwa Bunda harus masuk ICU aku merasa biasa saja tidak ada feeling yang aneh-aneh, karena aku sudah sering melihat Bunda keluar masuk ICU selama hampir dua tahun ini. entah kenapa saat itu aku benar - benar ingin berfikir positif terus, Papah ngomel - ngomel soal dokter tapi aku tetap berfikir positif.
Dan di hari selasanya, aku mendapat kabar bahwa Bunda harus dipasang alat bantu pernafasan (Ventilator), karena saat dilihat di monitor kadar oksigennya menurun sehingga harus dibantu alat, awalnya saat mendengar itu aku lemas, tapi kembali aku tetap berfikir positif, yang ada difikiranku saat itu
"ah, dulu juga Bunda pernah kok pake ventilator, cuma sehari doang abis itu udah boleh keluar ICU", keesokan harinya di sore hari, Papah mendapatkan kabar buruk dari dokter, intinya dokter berkata di kepala Bunda saat di cek masih banyak cairan, dan harus di operasi, tapi harus tunggu kondisi Bunda stabil(sadar dari cooma), namun keadaan yang terjadi adalah kondisi Bunda saat itu sedang sangat tidak stabil, elektrolitnya sangat turun, tapi dokter berkata masih akan tetap terus berusaha kami beranggapan bahwa masih ada kesempatan untuk dapat lebih membaik, selagi dokter berusaha kami sekeluarga juga terus bantu mendoakan tiada henti.
Papah seperti biasa setiap malam pulang kerumah jika Almarhumah di rawat, dan aku yang menunggu di rumah sakit. Namun apa daya, manusia hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa, Tapi Allah SWT lah yang berkehendak.
Fikirku, ya daripada tidak sama sekali. Setelah itu aku langsung bergegas mandi dan sholat Isya, pas sekali saat aku kembali ke ruang tunggu keluarga, kurang lebih pukul 20.50 WIB keluarga mendapat panggilan untuk keruang ICU, dan ternyata kondisi Bunda sangat menurun dan tepat pukul 21.03 dokter menyatakan bahwa Bunda telah tiada.
Kami sekeluarga tidak mengira peristiwa tersebut akan secepat itu. dan ternyata benar Bunda hanya sehari saja pasang ventilator, juga habis itu boleh keluar dari ICU, tapi Bunda besoknya pindah ke ruang jenazah, bukan lagi di ruang ICU.
Tak terasa sekian hari berlalu ketika untuk terakhir kalinya aku memandang wajah Bunda tersenyum yang terasa tenang dan damai.
Karena beliau ingin anak - anaknya bukan hanya sukses di dunia, namun di akhirat juga. Pribadinya yang sederhana, sabar, tegas, penyayang serta keimanan dan ketaqwaan yang kuat dan juga pendiriannya yang selalu teguh dalam menghadapi cobaan, membuat Almarhumah sangat dicintai oleh keluarga.
Masih banyak sekali kenangan indah dari Almarhumah yang tidak dapat kami sampaikan satu persatu.
Bunda,
Bunda yang telah melahirkanku ke dunia ini, yang telah membesarkanku, merawatku setiap hari dari sebelum tali pusar ini di potong, hingga saat ini, Ya saat ini aku sudah mengenal dunia, dunia yang ternyata gak semudah itu untuk di hadapi.
Tiada kata yang bisa aku ucapkan selain Maaf dan Terima Kasih untukmu, Bunda.
Maaf,
Maaf kalau aku suka merepotkanmu, pernah mengecewakanmu, suka ketus denganmu, pernah berbohong, pernah melawan, pernah tidak mendengar kata - katamu, maaf jika aku pernah membuatmu menangis, membuatmu pusing, maaf aku terlalu manja, maaf kalau aku egois terhadapmu, maaf jika aku belum membahagiakanmu, membahagiakanmu dari kesuksesanku dan maaf jika hampir dua tahun merawat Bunda disaat Bunda sakit aku masih kurang maksimal.
Terima Kasih,
Terima Kasih karna engkau telah melahirkanku, terima kasih engkau telah merawatku, menyusuiku, mendidiku, mengajarkanku banyak hal, mulai dari belajar membaca, menulis, menggambar, belajar untuk menjadi wanita seutuhnya, dan yang paling ku ingat dan menempel di otakku.
terima kasih banyak Bunda sudah kuat melawan penyakitmu selama ini, terimakasih engkau selalu perhatian, dan merawatku disaat sakit, terima kasih banyak engkau tetap tersenyum dalam menghadapi cobaan yang cukup berat ini, terima kasih engkau telah lebih mendekatkanku kepada Allah SWT, membuatku hafal surah yasin, terima kasih engkau telah mengajarkanku asam manis pahitnya kehidupan, terima kasih karena engkau telah memberikan aku pembelajaran untuk bekal hidupku, terima kasih Bunda sudah menjadi Ibu yang baik, yang selalu kuat dalam segala hal
Terima kasih karna kau telah memberikanku kesempatan untuk menjaga salah satu Pintu Surgaku yang paling tengah dan terima kasih banyak engkau telah menungguku untuk menemanimu di nafas terakhirmu, terima kasih engkau telah berikanku kesempatan untuk menepati janjiku, dimanaku berjanji aku akan menjaga dan merawat beliau bagaimanapun kondisinya.
Beruntung, kata orang-orang. Karena aku menemani Bunda dinafas terakhir.
Mungkin ini adalah jawaban Allah SWT atas doa yang selalu meminta petunjuk menuju jalan terbaik untuk kesembuhan Bunda.
Bunda udah gak sakit lagi, gak di operasi - operasi lagi kepalanya, udah gak pusing lagi, udah gak batuk2 lagi, udah gak harus Githa tepok - tepokin lagi punggungnya, udah gak sakit perut lagi, udah gak akan nuntah - muntah lagi, gak akan kejang lagi, gak demam lagi, gak harus minum obat lagi, gak harus di uap, gak harus terapi, gak perlu bolak balik RS lagi untuk kontrol.
Aku tidak pernah mengira akan secepat ini, Bun. Kini tiada lagi ditengah-tengah kami sosok Ibu yang tegar, ceriwis, perhatian, dan penyayang.
Selamat hari Ibu, Bun. Ini adalah Hari Ibu, Hari ibu pertama tanpamu di sampingku.
Selamat jalan, Bunda. Semoga Bunda disana semakin kuat lagi, dilancarkan perjalanan menuju Surga. Yang tenang ya, Bun. Terima Kasih hampir 2tahun ini, telah memberikan Githa kesempatan untuk menjaga Pintu Surga Githa, menemani hingga nafas terakhir, serta mengantar ke tempat peristirahatan terakhir.
kami sekeluarga selalu mengenang dan mendoakanmu. Semoga Bunda diampuni segala dosa dan kekhilafannya, di terima amal ibadahnya, diterangi dan dilapangkan alam kuburnya, dijauhkan dari siksa kubur dan api neraka, di muliakan tempat tinggalnya, serta dilapangkan Pintu Surga baginya, jaga Bunda baik-baik yaAllah. Aamiin Ya Rabbal Allamiin.
Setelah Bunda meninggal, awalnyaku merasa sedih, benar-benar tidak semangat untuk melakukan sesuatu, hanya ingin pergi kemakam terus. Masih merasa tidak puas merawat Bunda kemarin, masih merasa belum cukup berbakti, belum sempat membahagiakan Orang Tua, terlebih Bunda. Andai Githa masih diberi kesempatan untuk merawat Bunda seperti kemarin... Ini tidak seperti yang ku inginkan, tetapi Allah SWT lebih tau yang terbaik untuk Bunda, untuk seluruh umatnya.
Namanya manusia hanya bisa berusaha namun apa daya Allah berencana lain. Aku percaya, rencana-Mu akan lebih indah dari apa yang kita inginkan, mungkin memang aku selalu bertanya kepada-Mu, “YaAllah, kapan Bunda sembuh? Kapan aku bisa membahagiakan mereka dengan kesuksesanku?
Kapan kita bisa keluar dari semua ujian ini?” dan aku pun madih mengingat setiap kata doaku untuk Bunda sebelum Bunda pergi, aku dengan penuh ego bertanya “Bunda, Githa baru selesai doain Bunda, kenapa Bunda secepat ini ninggalin Githa? Githa belum bahagiain Bunda dari kesuksesan Githa, kenapa Allah ambil Bunda?
Githa baru bilang, Githa butuh Bunda dihari-hari Githa. Kenapa yaAllah?” dan aku baru mengingat, di doaku selalu terselip kalimat “aku akan terus jaga Bunda dan Papah, bagaimanapun kondisinya.” lalu aku menyadari, mungkin ini adalah salah satu jawaban dari-Nya, Allah berkata “Sabar, Ikhlas” itu kunci kesuksesan.
Beruntunglah kalian yang sempat merawat orang tua kalian (kata sekian banyak orang), bakti kepada orang tua diminta bukti dengan serangkaian ujian yang diberikan.
--
Love you,
Your stubborn child
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H