Pada titik tertentu, peristiwa adalah peristiwa yang dinamis. Peristiwa yang melibatkan efek dari eforia kebebasan yang kebablasan.Â
Sebagai titik pertumbuhan kontinuitas, maka pilihan kita untuk menata ulang permasalahan yang kompleks, representasi, suksesi, diskontinuitas atau krisis multidimensi.Â
Sementara, perluasan kontinuitas membuat kita berada dalam titik keraguan atau peristiwa politik belaka. Ada kegairahan lambat menukarkan mimpi panjang.Â
Usai bermimpi, orang-orang bangun, terlena, kerja sambil berpikir tentang sesuatu yang menjanggal. Kekerasan bahasa dan pikiran diselimuti dengan kata-kata bisu, hasutan, dan semboyan yang basi, kecuali rasis perkosaan.
Kita tidak memiliki kerangka teoritis mengenai peristiwa yang betul-betul merupakan suatu rangkaian peristiwa transformasi masyarakat dan diskontinuitas. Lebih tepatnya, suatu peristiwa yang mengarah pada peristiwa diskursif melalui apa yang dinyatakan individu bergerak dari satu kegelapan ke cahaya.Â
Dari kepenuhan nafsu menuju pada pembebasan esensial, yang berjalan ke peristiwa yang membebaskannya dari kepastian yang terburu-buru.Â
Tiba-tiba dari samping, suatu perbedaan garis putih dan hitam melintasi titik peristiwa melalui kebenaran yang bertopeng tanpa kegelapan dan cahaya yang menyatakan reformasi atau perubahan dimana gerangan.
Itulah kegairahan kita membedakan gambaran antara perubahan dan "tumpangan gelap dari kebebasan" (kebebasan yang ironis). Saat jiwa bebas merasuk, maka perubahan dari massa kritis sulit tergambarkan.Â
Massa kritis seiring dengan hasrat massa. Tanda efektivitas perubahan akan terjalin kelindan antara massa kritis dan hasrat massa yang terkontrol.Â
Jejak-jejak peristiwa tidak membutuhkan lagi rasa sesal, kecuali seseorang terbalaskan rasa haus akan darah yang mengalir di tubuh korban kekerasan rasial.Â
Tetapi, sasaran perubahan yang diimpikan bukan dari citra pikiran yang terjebak dalam peristiwa kekerasan. Ia juga tidak datang dari noda di balik halaman buku yang direnggut oleh pembaca yang bebas menilai.