Mohon tunggu...
Ermansyah R. Hindi
Ermansyah R. Hindi Mohon Tunggu... Lainnya - Free Writer, ASN

Bacalah!

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Tidak Ada Kisah Reformasi dalam Kenetralan Peristiwa

3 Mei 2023   13:15 Diperbarui: 23 Februari 2025   22:04 521
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Lihatlah, bagaimana tangan dingin para pencari pengetahuan dengan semangat berapi-api! Mereka nampak berbeda dengan tangan kotor dan jari-jari yang terbakar. 

Apapun alasannya, kita melengkapi dirinya dengan titik rahasia ritual selera melalui tubuh yang dikorbankan. Ingatan tentang kekerasan menjadi relasi antara hasrat dan ritual kematian mengakhiri kebenaran yang bertopeng, yang ditemukan dalam ilusi kebebasan.

Keterjarakan jejak-jejak antara mimpi dan ingatan sebagai bentuk keintiman yang menukik, memahami suatu disposisi birahi dan kegairahan pikiran dalam kekuatan ganda, tanpa pemolesan wujud artifisial. 

Sebagian perjalanan hidupnya, manusia mungkin tidak tertarik untuk berbicara, berhitung, menulis, merasakan, dan bertindak tanpa tubuh eksotis sebagai mediator sekaligus pemicu yang menakjubkan.

Peristiwa dengan pembacaan kembali atas teks atau tanpa ingatan kolektif tentang kekerasan dibandingkan memikirkan dalam-dalam tentang apa arti waswas, merenung, dan membalikkan kekerasan yang baru. Kita mesti banyak belajar di bawah maklumat, teks-teks, dan seni-kritis mengenai kekerasan bergerak ke arah jejak-jejak yang mendasari pemikiran dan ingatan kita.

Kita dipandang unik dari dunia lain berkat kuasa sebagai kenyataan 'panggung hidup' yang dimainkan oleh kekerasan seksual. Ia hanya penjelmaan dari skandal kebenaran dari daya yang lebih kuat dari kuat. 

Tetapi, seluruh pengetahuan kronologis bagi individu akan tertahan dalam kekuatan ingatan yang kuat, dimana insting-insting, hasrat-hasrat, dan lainnya yang sebelumnya sebagai obyek tidak nyata, akhirnya menjadi relasi antara permainan kebenaran dan kekerasan.

Kekerasan dalam relasi pemikiran antara ingatan dan jejak-jejak bisa dipersembahkan untuk dianalisis kembali. Sedangkan, khayalan dan ingatan bukanlah instrumen, melainkan titik akhir dari pengetahuan yang membuat seseorang lebih serius mengatasi kekerasan. 

Khayalan dan ingatan menjadi sasaran kekerasan. Dari titik ini, kekerasan dalam bentuk kekerasan rasial akan membelokkan pandangan yang luas dan sirnanya keyakinan mereka yang kuat.

Jika seseorang terasuki dan terbelenggu dalam kebebasan, maka individu berusaha semampu mungkin melalui kekuatan hasratnya yang tidak terpuaskan. Karena hasrat merupakan cetakan diri. Peristiwa kekerasan bagaimanapun juga merupakan bentuk penyaluran. 

Tetapi, cengkraman rasa malas bergayutan terus menerus tanpa mengenal kelelahan seperti seekor onta dan seekor keledai yang memikul beban maupun juga memiliki insting untuk memperkirakan dunia melalui aura kesabaran dan keteguhan melintasi padang pasir atau daratan yang remeh.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
  9. 9
  10. 10
  11. 11
  12. 12
  13. 13
  14. 14
  15. 15
  16. 16
  17. 17
  18. 18
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun