Segerombolan pemuda menyeramkan.
Mereka membawa pentungan.
Ada yang bawa golok.
Sejak di jalan mereka sudah teriak:
"Hei, Cina.
Keluar kalian.
Kalian jadi kaya.
Kami miskin."
"Duaaaaarr"
Gerbang berhasil mereka dobrak.
Li Wei ketakutan.
Ia segera matikan lampu.
Ia tutup gorden.
Itu masih sore hari menjelang magrib.
Tapi justru aksi Li Wei ini terlihat.
Mereka meyakini rumah ini ada penghuninya.
Pintu masuk pun didobrak.
Mereka masuk ke ruangan.
Li Wei sembunyi di bawah kolong ranjang.
Tapi mereka berhasil menemukannya.
"Jangan, jangan," ujar Li Wei.
Aku punya uang.
Ambil saja uangku.
Ambil saja barang-barang."
Mereka tertawa.
Golok pun di dilengketkan ke leher Li Wei.
"Jika melawan, aku gorok lehermu.
Aku cungkil matamu."
Li Wei seketika lemas.
Ia seolah hilang ingatan.
Yang ia ingat, rasa sakit.
Bergantian lima lelaki itu memperkosanya.
Itulah sehalaman puisi esai dari Denny JA dalam Jeritan Setelah Kebebasan (2022). Ia adalah satu kisah dari 25 kisah dramatis bahkan peristiwa tragis terjadi di era reformasi. Jeritan dalam jeritan Denny JA.Â
Jeritan itu melampaui 252 halaman buku puisi esai karya Denny JA. Dia memainkan teks tertulis begitu apik dan menggema.
Mengapa disebut tidak ada kisah 21 Mei 1998? Apa yang memicu sehingga peristiwa politik tumbangnya rezim Orde Baru menjadi peristiwa suksesif yang mengerikan?Â
Puisi esei Denny JA menjadi saksi atas dua pertanyaan tersebut. Peristiwa rasial, berdarah, dan pemerkosaan sebagai "selingan fatal" pra 21 Mei 1998.
Saya tidak bermaksud mengungkapkan tentang asal-usul pergolakan massal dan jejak-jejak kebangkitan intelektual muda dari mahasiswa. Karena itu, mungkin usia anak kecil terlalu cepat memasuki tanda keindahan pembunuhan di malam kejam.Â
Orang pada tahu, bahwa Reformasi 21 Mei 1998 ditandai dengan tumbangnya sebuah rezim lama menuju rezim baru. Setidak-tidaknya, tanda kuasa sejak puluhan tahun yang lalu begitu nikmat.
Masyarakat Indonesia terutama kaum terpelajar atau intelektual muda memiliki satu ingatan kolektif atas pergerakan Reformasi 21 Mei 1998. Ia menjadi sebuah fenomena sejarah.Â
Peristiwa politik tidak selalu menjadi peristiwa menarik. Peristiwa dimaksudkan merupakan bagian dari fenomena sejarah politik itu sendiri. Peristiwa besar tidak dapat direduksi dengan rangkaian 'determinisme' dari pergerakan sosial atau rangkaian sebab musabab mengapa terjadi gelombang protes terhadap rezim otoriter.
Ahli sejarah belum menemukan rangkaian sebab musabab tumbangnya rezim dengan satu persfektif. Katakanlah, akumulasi amarah yang menumpangi protes sosial membuat nalar dapat dibunuh dengan kesilauan akan kebebasan.Â
Bentuk-bentuk kekerasan adalah bentuk penghancuran mimpi, berakhir dengan ilusi dari kebebasan. Lantas, ketidakhadiran nalar dalam kekerasan fisik misalnya, menandai kebangkitan hasrat yang bersentuhan dengan kekerasan bahasa dan pikiran.
Tetapi, "kebutaan" atas peristiwa besar dan tragis dirisaukan bukan karena faktor semangat, melainkan kekerasan pikiran. Sehingga hasrat untuk bebas memiliki kekuatan logika tersendiri untuk memahami perjalanan kehidupan dunia.Â
Sejarawan berusaha mencari nilai surplus kuasa di sudut-sudut peristiwa. Peristiwa itu muncul ketika warna-warni kehidupan dan pemikiran mulai dipermasalahkan. Warna-warni kehidupan dan pemikiran ternyata hanya menutupi krisis hebat.
Pada titik tertentu, peristiwa adalah peristiwa yang dinamis. Peristiwa yang melibatkan efek dari eforia kebebasan yang kebablasan.Â
Sebagai titik pertumbuhan kontinuitas, maka pilihan kita untuk menata ulang permasalahan yang kompleks, representasi, suksesi, diskontinuitas atau krisis multidimensi.Â
Sementara, perluasan kontinuitas membuat kita berada dalam titik keraguan atau peristiwa politik belaka. Ada kegairahan lambat menukarkan mimpi panjang.Â
Usai bermimpi, orang-orang bangun, terlena, kerja sambil berpikir tentang sesuatu yang menjanggal. Kekerasan bahasa dan pikiran diselimuti dengan kata-kata bisu, hasutan, dan semboyan yang basi, kecuali rasis perkosaan.
Kita tidak memiliki kerangka teoritis mengenai peristiwa yang betul-betul merupakan suatu rangkaian peristiwa transformasi masyarakat dan diskontinuitas. Lebih tepatnya, suatu peristiwa yang mengarah pada peristiwa diskursif melalui apa yang dinyatakan individu bergerak dari satu kegelapan ke cahaya.Â
Dari kepenuhan nafsu menuju pada pembebasan esensial, yang berjalan ke peristiwa yang membebaskannya dari kepastian yang terburu-buru.Â
Tiba-tiba dari samping, suatu perbedaan garis putih dan hitam melintasi titik peristiwa melalui kebenaran yang bertopeng tanpa kegelapan dan cahaya yang menyatakan reformasi atau perubahan dimana gerangan.
Itulah kegairahan kita membedakan gambaran antara perubahan dan "tumpangan gelap dari kebebasan" (kebebasan yang ironis). Saat jiwa bebas merasuk, maka perubahan dari massa kritis sulit tergambarkan.Â
Massa kritis seiring dengan hasrat massa. Tanda efektivitas perubahan akan terjalin kelindan antara massa kritis dan hasrat massa yang terkontrol.Â
Jejak-jejak peristiwa tidak membutuhkan lagi rasa sesal, kecuali seseorang terbalaskan rasa haus akan darah yang mengalir di tubuh korban kekerasan rasial.Â
Tetapi, sasaran perubahan yang diimpikan bukan dari citra pikiran yang terjebak dalam peristiwa kekerasan. Ia juga tidak datang dari noda di balik halaman buku yang direnggut oleh pembaca yang bebas menilai.
Perubahan sebagai peristiwa merupakan tanda implikatif yang lebih luas daripada perkiraan  sebelumnya. Perubahan yang memakan "korban" akibat kompleksitas warna dan suara.Â
Peristiwa kelam pun sekarang diarak-arak keluar secara kolosal dalam bidang ekspresi kita, tetapi merosot dalam prediksi masa depan.Â
Suatu perhitungan cermat dari orang yang puas, terhadap khayalan dan ingatan akan suatu perubahan tidak lebih membumbui kisah kehidupan. Citra dan jaringan teror: nalar.Â
Kebebasan menyongsong mimpi besar dan melepaskan dongeng yang merahasiakan kodenya dalam siang dan malam panjang.Â
Perubahan ditopang dengan garis-garis, kata-kata, dan proposisi. Perubahan dari monster menjadi apapun bentuknya dalam peristiwa .
Untuk melanjutkan balas dendam dari peristiwa diskursif, marilah kita sejenak mengarahkan kebebasan dalam perut menjadi kubangan bisikan atau godaan. Asal-usul tipu muslihat sekaligus kecerdikan di balik kekerasan.Â
Apa yang ada di bawah perut? Sungguh hal ini merupakan 'proses penetralan racun'. Meski dalam larutan madu, racun berbisa tetaplah racun.
Warna dan baunya merupakan jejak-jejak yang khas dan tantangan tersendiri dari kekerasan. Setelah kebebasan, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok tertentu adalah jenis manusia dalam cara melihat, menahan, dan menyebarkan kekacaubalauan.Â
Kata-kata kebebasan sebagaimana kejahatan nyaris tidak tertidur. Keduanya mungkin merupakan celah  bagi kegiatan di malam dan siang hari sebagai momentum serangan mendadak.
Korban perubahan membiarkin siang dan malam bisa menyediakan cibiran di antara orang yang malas membunuh gairahnya. Maka dari itu, orang dapat mengembalikan penalaran dan petuah bijak mereka dengan memperanakkan penderitaan filsuf menghilang dalam khayalan dan ingatannya.Â
Karena ia telah melunasi utang sejarah pemikiran melalui jalinan diskursus, sehingga kita bisa mengalihkan perhatian pada sesuatu yang lain. Bahwa setiap orang berada di atas rangkaian kronologis disusun dan disebarkan di ruang pengetahuan.
Sejarah politik kuasa bukan hanya dalam pengertian tidak harus dipahami sebagai kompilasi suksesi faktual, tetapi suatu peristiwa tentang kelahiran nalar.Â
Dalam peristiwa aktual, politik kuas dimungkinkan selalu ada bagi wilayah ingatan kita yang paling kuat, paling waspada, dan paling rentan.Â
Tetapi, ia juga saling menyilang dengan pengingatan dan kelupaan. Selama ingatan yang terjaga, maka orang-orang akan mengarahkan kembali pada pemikiran mengenai urutan kronologis, suksesi, dan peristiwa baru.
Sementara, peristiwa yang lain akan membentuk rangkaian zaman yang berbeda. Satu dari fase kejatuhan ke fase kebangkitan, dari rangkaian linear ke rangkaian lingkaran. Peristiwa telah menyebabkan hilangnya milik mereka sendiri, sepanjang mereka apa yang betul-betul unik dan hal-hal apa yang diingat peristiwa yang muncul dari belakang kita.
Atas nama perubahan, akhir dari struktur kesadaran menerima ingatan melalui ketelitian yang terlunasi sebagai satu-satunya cara penyembuhan dibalik kematian nalar. Berbagai reputasi gemilang atas nalar dan kekerasannya adalah keadaan yang runyam begitu sulit memperbaharui kembali.Â
Pergerakan darah dan sel-sel syaraf dari replikasi alam, mereka hadir bukan di tengah kegoncangan hidup diantara ketidakhadiran gairah yang fantastis.Â
Permainan kebenaran nampak di akhir dari kebenarannya sendiri. Kebenaran dari peristiwa bukanlah hipotesis, difragmentasi dengan kertas tanpa tinta di hadapan pembajak demokrasi.
Tatkala berpikir sederhana, kita mesti bertanggungjawab atas pemecatan tatanan dunia, tiba-tiba menyelinap dalam pencampur-adukan persfektif dan tatanan. Ia laksana duri dalam daging membuahkan rasa sakit.
Sesungguhnya hasrat massa melebihi kebebasan sebelum menit-menit terakhir ilusi. Kita mungkin menghadapi tantangan dunia baru yang diiringi dengan perubahan instan yang pincang akibat niat busuk.Â
Belum lagi, kepura-puraan dan kritisisme ternyata anti kritik. Karena retorika yang mentah mengumbar gambar melalui posisi tawar yang tinggi.
Kekerasan Ganda
Mulai dari kekerasan pikiran ke kekerasan fisik. Dari kekerasan bahasa ke kekerasan hasrat, dari kekerasan rasial ke kekerasan seksual hingga kekerasan teks ("putih-hitam," "orang dalam-orang luar"). Semuanya merupakan kekerasasn ganda.
Tanpa pengembosan dan pertumbuhan yang fantastis dari arus perubahan akibat Reformasi 21 Mei 1998. Jejak-jejak tanpa tubuh yang memadati gambar, suara, dan warna mutakhir dalam rekaman peristiwa yang aneh.Â
Misalnya, pantulan senyuman, citra, dan kekebasan yang diumbar begitu mempesonakan justeru menyelubungi kekerasan rasial.Â
Terlacak jejak-jejaknya, sebelum 21 Mei 1998 telah terjadi kekerasan rasial ditandai dengan pembakaran bangunan dan kendaraan. Peristiwa Kerusuhan Mei 1998 menelan korban sebanyak 499 orang tewas. (kompas.com, 15/11/2021)
Cukupkah dengan prasasti peringatan korban Kerusuhan Mei 1998? O Ingatan!Â
Peristiwa tragis itu terlalu mudah untuk dilupakan. Paling tidak, sebanyak 113 korban kerusuhan Mei 1998 dengan lokasi makam masal di DKI Jakarta yang tidak teridentifikasi. (komnasperempuan.go.id, 13/ 05/2021)
Teror mengiringi perubahan politik. Tubuh murni dijadikan sasaran pelampiasan nafsu bejat menyertai hari-hari sebelum 21 Mei 1998. Sebanyak 200 pengaduan kasus perkosaan, terhitung sejak sampai 15 Mei 1998. Dari keseluruhan kasus itu, terdapat 189 kasus perkosaan berdasarkan hasil verifikasi. (kompas.com, 19/11/2021)
Terutama di kota-kota layaknya kota-kota mati. Suasana betul-betul mencekam menyelimuti warga. Kenyataannya, bentuk kekerasan rasial beririsan dengan kekerasan seksual.Â
Reformasi itu menyenangkan sekaligus menyedihkan. Kehormatan Reformasi dinodai oleh kekerasan.
Sebelumnya, saya dan Anda sedang mengendarai kendaraan usai kerusuhan sosial. Tetapi, kerusuhan sosial tiba-tiba menjelma menjadi kerusuhan rasial.Â
Saat itu, 1997, sosok bocah tidak bernyawa. Dia bocah tak berdosa menemui ajalnya di tangan orang dari kaum minoritas dengan gangguan jiwa (ODGJ). Hasil dari peristiwa kelam itu mendatangkan semacam "efek domino."Â
Usai peristiwa kelam itu, kota menjadi kota yang lumpuh. Suasana itu tiba-tiba berubah menjadi lautan amarah massa. Mereka tidak lebih dari amuk massa.
Betapa tidak. Berbagai jalanan kota sudah berserakan benda-benda seperti bebatuan. Seperti nge-remote kerusuhan massa, beberapa bangunan termasuk pertokoan habis terbakar.Â
Suasana hening. Banyak rumah pertokoan yang menyembulkan "sajadah" sebagai penanda atau simbol, bahwa yang punya bangunan adalah bagian dari kaum mayoritas. Kerusuhan massa begitu cepat menjalar seantero kota. Warga terjebak dalam lingkaran kekerasan.
Sebagian warga mungkin masih berada dalam kenaifan dengan relasi antara orang-orang pribumi dan non pribumi, mayoritas dan minoritas. Keduanya mengubah tubuh dan mengodekan sesuatu dengan kelenyapan makna akibat kekerasan.Â
Suatu perubahan kehidupan atau tatanan dunia diluapi, disesuaikan, dan bahkan dimanipulasi dengan "represi kesadaran" secara spontan. Ia dicitrakan oleh tubuh yang "mayoritas" atas "minoritas."Â
Kita masih mengingat tentang kisah tirani mayoritas atas minoritas. Ingatan kolektif tersebut adalah kisah tragis yang membungkam ribuan hentakan intelektual yang keras tentang jiwa modern. Kita coba abaikan peristiwa tragis itu.Â
Lalu, seorang teknokrat sejati yang terlatih menahan luapan dan desakan kuat dari 'hasrat untuk kuasa': menikung tajam. Persepsi mengenai jurang yang dalam dan terhimpit oleh kekuatan luar. Ia diletakkan sebagai obyek pengetahuan tentang perubahan dunia untuk meniru ilusi.Â
Begitulah aliran hasrat yang tanpa disadari menjadi bahan analis atau obyek pengetahuan. Peristiwa tragis dilahap setengah habis bagi mereka yang haus kontradiksi internal antara imajinasi dan kegemaran pada setiap langkah "permainan catur" yang logis.Â
Peristiwa itu tanpa cermin dan referensi. Mereka mungkin tidak belajar dari peristiwa tragis sebelumnya.
Pelajaran tentang peristiwa tragis (kekerasan rasial) tidak pernah habis terbuang percuma diantara kekambuhan. Kerusuhan atau kekerasan rasial dipisahkan dari permukaan tubuh murni (Aku versus Anda, pribumi versus non pribumi) begitu memilukan.Â
Sebaliknya, kegairahan filsuf adalah bui. Ia bukan merupakan representasi bahasa yang paling cair dan membius ingatan yang bergerak "dari dalam." Suatu lingkaran dan tontonan besar dari "permukaan kebebasan," gambar mengalir keluar dari dirinya, penuh pemujaan atas tubuh ditampilkan oleh kekerasan.
Lihatlah, bagaimana tangan dingin para pencari pengetahuan dengan semangat berapi-api! Mereka nampak berbeda dengan tangan kotor dan jari-jari yang terbakar.Â
Apapun alasannya, kita melengkapi dirinya dengan titik rahasia ritual selera melalui tubuh yang dikorbankan. Ingatan tentang kekerasan menjadi relasi antara hasrat dan ritual kematian mengakhiri kebenaran yang bertopeng, yang ditemukan dalam ilusi kebebasan.
Keterjarakan jejak-jejak antara mimpi dan ingatan sebagai bentuk keintiman yang menukik, memahami suatu disposisi birahi dan kegairahan pikiran dalam kekuatan ganda, tanpa pemolesan wujud artifisial.Â
Sebagian perjalanan hidupnya, manusia mungkin tidak tertarik untuk berbicara, berhitung, menulis, merasakan, dan bertindak tanpa tubuh eksotis sebagai mediator sekaligus pemicu yang menakjubkan.
Peristiwa dengan pembacaan kembali atas teks atau tanpa ingatan kolektif tentang kekerasan dibandingkan memikirkan dalam-dalam tentang apa arti waswas, merenung, dan membalikkan kekerasan yang baru. Kita mesti banyak belajar di bawah maklumat, teks-teks, dan seni-kritis mengenai kekerasan bergerak ke arah jejak-jejak yang mendasari pemikiran dan ingatan kita.
Kita dipandang unik dari dunia lain berkat kuasa sebagai kenyataan 'panggung hidup' yang dimainkan oleh kekerasan seksual. Ia hanya penjelmaan dari skandal kebenaran dari daya yang lebih kuat dari kuat.Â
Tetapi, seluruh pengetahuan kronologis bagi individu akan tertahan dalam kekuatan ingatan yang kuat, dimana insting-insting, hasrat-hasrat, dan lainnya yang sebelumnya sebagai obyek tidak nyata, akhirnya menjadi relasi antara permainan kebenaran dan kekerasan.
Kekerasan dalam relasi pemikiran antara ingatan dan jejak-jejak bisa dipersembahkan untuk dianalisis kembali. Sedangkan, khayalan dan ingatan bukanlah instrumen, melainkan titik akhir dari pengetahuan yang membuat seseorang lebih serius mengatasi kekerasan.Â
Khayalan dan ingatan menjadi sasaran kekerasan. Dari titik ini, kekerasan dalam bentuk kekerasan rasial akan membelokkan pandangan yang luas dan sirnanya keyakinan mereka yang kuat.
Jika seseorang terasuki dan terbelenggu dalam kebebasan, maka individu berusaha semampu mungkin melalui kekuatan hasratnya yang tidak terpuaskan. Karena hasrat merupakan cetakan diri. Peristiwa kekerasan bagaimanapun juga merupakan bentuk penyaluran.Â
Tetapi, cengkraman rasa malas bergayutan terus menerus tanpa mengenal kelelahan seperti seekor onta dan seekor keledai yang memikul beban maupun juga memiliki insting untuk memperkirakan dunia melalui aura kesabaran dan keteguhan melintasi padang pasir atau daratan yang remeh.
Onta dan keledai merupakan jenis tanda-tanda bahaya jika melampaui batas-batas, melebihi kekuataannya.Â
Manusia perlu iri hati melihat fenomena birahi yang lebih cermat dari dirinya hingga penaklukan yang tersembunyi dalam daya ingat berubah menjadi reaksi amarah terhadap dunia lain.
Berbeda dengan gaya selera, dimana selera dirancang sebagai sarana persuasi sekunder dari ingatan. Kaum intelektual dengan esprit vaste (daya intelektual yang mengembara) sebagaimana situasi-situasi kejiwaan, di sekitar respon-respon kekacauan khayalan bukan lagi suatu rangkaian sintaksitas kegairahan yang cair, melainkan ketidakhadiran pesan.
Seperti seseorang bergembira dengan berputar-putar mengelilingi godaan dan menerbangkan mimpinya ke dunia nyata. Suatu dunia sebagi ruang berpijak mereka.Â
Dari arah lain, kegairahan individu bukanlah sekumpulan mayoritas dan minoritas yang dijadikan obyek pengetahuan. Tetapi bentuk, kekerasan rasial yang keluar dari representasi, tanpa dibumbuhi citra dan kesenangan begitu samar dan rapuh.
Seluas pengetahuan kita tentang keindahan dan rasa sakit. Apakah kita masih membutuhkan tata bahasa melayang-melayang di luar teks Kantian? Teks-teks yang tidak mampu menegangkan urat syaraf dan melonggarkan otot persendian kita?
Ia mungkin juga merupakan tipu muslihat dari perubahann. Sejak pemikiran modern melihat keuntungan di antara kehadiran, tatanan, dan kesia-siaan, melepaskan rasa sakit dan kenikmatan yang menakutkan kita.Â
Lebih dari pergerakan yang disembunyikan, kekerasan rasial dalam kuantifikasi (jumlah kasus, gambar, dan frekuensi) dari 'sang penentang' ketidakadilan.
Emosi dan hawa panas terombang-ambing di atas suatu kenyataan dunia. Bahwa kekacauan yang melanda pikiran digiring dalam kebencian yang intensif terhadap penampilan tubuh rasial.Â
Emosi dan panas diluar ide. Menyangkut kekuatan fisiologis dipersembahkan oleh para reformis untuk menampik kebencian atas nafsu birahi.Â
Darah-emosi digambarkan sebagai kekuatan besar secara reflektif. Di balik perubahan, ada kekerasan rasial membuat pikiran kita terteror. Tatanan diorganisasikan untuk menghaluskan kekerasan hasrat birahi. Darah lancar, birahi gencar, akhirnya kembali menemukan keseimbangan.
Darah bergerak sekian kali. Karena kerja jantung sangat vital maka titik pergolakan sengit tubuh untuk melepaskan dirinya dari rasa sakit.Â
Titik pengontrolan ketat atas tubuh seakan-akan seperti menjadi tanda kelahiran nalar yang tidak diharapkan. Kerja jantung tidak membutakan kelazimannya dengan mengendalikan nafsu; riak-riak amarah hingga melonggarkan pembuluh-pembuluh darahnya.
Di situlah kelahiran kembali suatu organisme. Ia berganti dengan kekerasan melalui sirkulasi darah-amarah.Â
Pencairan-pencairan humor akibat rangkaian ketegangan yang berlipat ganda, peniadaan halangan-halangan, penyegaran-penyegaran darah, penggembiraan kekuatan diri yang tercantum dalam panas alamiah, penyempurnaan citra rasa pencernaan, dan pengolahan tubuh segar dan pikiran tajam.Â
Proses kimiawi semakin alot dan mengasyikkan tubuh kita.Â
Semuanya ditandai dengan kebahenolan panas, perangsangan pori-pori, tarikan erotis digelembungkan oleh selaput-selaput yang tersembunyi.
Satu-satunya cara untuk menolak kekerasan dengan segala bentuknya adalah ketelitian atas kelembaban sosial dan efek-efeknya. Cairan kental dan halus memanggil dengan bunyi jasmani yang sangat kuat dari panas tanpa penandaan.
Pergerakan-pergerakan halus secara otomatis atau alamiah bukanlah sesuatu dunia esensial. Dalam organ tanpa anugerah ditutupi oleh materi pemikiran dengan bantuan berlapis-lapis oleh kecederungan alamiah. Ia silih berganti dengan sensasi dan mesin.Â
Panas dan dingin bergantung pada kesatuan energi non materi, tetapi ia hanya diketahui oleh tubuh. Pemikiran dan kebebasan, ketika daya-daya lain mengenai panas diciptakan untuk menekan pergerakan-pergerakan tubuh yang menolak kekerasan dan kecenderungan ganjil lainnya.
Tubuh merupakan efek ganda: perangsang paling ampuh dan penguat paling mematikan. Menggabungkan  paradoks dan mimpi, kilatan atas keluguan, khayalan atas indera dan kesilauan atas kesamaran.Â
Efek ganda itu memisahkan fenomena ekstrim dari penampilan tubuh. Rentetan tersebut memproyeksikan dirinya sendiri, dalam bingkai-bingkai gambar, simponi diskursus, dan tindakan.Â
Peristiwa itu dibungkam oleh seribu bahasa. Kelimpahannya adalah ritual kesenangan.
Entah kegelapan malam yang dibungkus kerudupan sinar dari lampu dan menimbulkan efek sensual, dinding berwarna cerah, rangsangan sirkulasi udara, pakain tidur, tarian, parfum, musik, rayuan, dan pujian yang terbenam hingga matahari pagi dan malam kembali melingkari korban kekerasan. Tetapi, seluruh pergerakan polosnya di bawah kesilauan tubuhnya.
Kesenangan-kesenangan fisik tidak lain hanyalah sebagai akhir dari kelahiran nalar. Tetapi, kita bernafsu tanpa lelucon; ia diubah menjadi kesenangan-kesenangan yang lumrah.Â
Begitulah cara-cara kita memanipulasi citra mimpi dengan titik akhir kegelapan dan kecerahan bergabung dan terbungkus tubuh dan efek-efeknya yang tajam. Dalam eforia Reformasi, ruang kebebasan yang tidak terkontrol seiring hasrat yang represif mendadak terpecah dalam kesia-siaan.
Insting pemangsa bukan kebinatangan. Ia hanya sekadar satu permasalahan kondisi manusia. Dalam pengetahuan, bahwa kesamaan insting manusia dan binatang, diantaranya air liur sebagai satu energi atau zat yang berfungsi untuk mempertahankan hidup.Â
Apakah kekerasan rasial di tengah cahaya atau citra artifisial sebagai sesuatu yang dianggap tidak sepeleh? Paling penting adalah kebebasan sebagai permasalahan.
Antara Nyata dan IlusiÂ
Perputaran-perputaran atau pergerakan-pergerakan lihai tubuh sebagai pengantar yang baik bagi bentuk kekerasan. Mereka haus darah harus berada di luar lapisan represi birahi di tengah kerusuhan massa terjatuh dalam tipu muslihat menjadi kekerasan.Â
Kenikmatan, hasrat, imajinasi, mimpi, dan khayalan diredistribusikan, ketika halusinasi mengejar bayangan, mata dibalas mata dan akhirnya dilenyapkan oleh kekekuatan ilusi.Â
Bersama sebuah dunia fiksi, ilusi tidaka lebih kuat dari nasib manusia bersama ketidakhadiran nalar, dimana dunia indera sebagai penjamu kebutuhan yang sempurna.Â
Dalam fiksi, gambar kekerasan teridentifikasi sebagai ramuan kuno sebelum keseimbangan hidup.Â
Satu sisi, fiksi bukan saja bertujuan untuk membebaskan, tetapi juga membersihkan nilai kebenaran dari kesadaran semu. Pada sisi lain, fiksi laksan menjajakan boneka mainan dengan perantara sebuah persfektif inderawi.Â
Kita seperti sebuah boneka mainan yang dipajang di etalase toko, dimana anak-anak kecil baru belajar bermain dengan dunia. Dalam keriangan yang tidak terbayangkan dalam dunia mereka, maka mereka dibimbing oleh nafsu untuk kekerasan rasial.Â
Kemudian, jalan Reformasi 21 Mei 1998 ditinggalkannya ke tempat dan bentuk permainan lain sesuai seleranya.
Tanpa mengabaikan peristiwa tubuh dan jaringan-jaringan instrumen yang mengurungnya, sebuah kegairahan tidak dihasilkan efek jaringan tubuh, tetapi berjuang bersama logika nurani untuk penaklukkan raksasa atas bayangan benda. Apakah logika itu?Â
Memamerkan kebebasan atau hikmah kebenaran yang mengandung kekerasan. Sebaliknya, kekerasan harus memboncengi ketiadaan bayangan gelap dan cahaya.
Agar tidak ada kata-kata kotor dan kebenaran benda sebagai perangkap yang terlumpuhkan oleh bingkai foto yang erotis, yaitu seni yang seronok.Â
Selain itu, tidak ada kelenyapan makna yang mengajarkan kita kehampaan, dimana ingatan-ingatan, pantulan-pantulan, alur-alur, dan pemindahan-pemindahan yang solid akan menarik nafsu.Â
Memanfaatkan nafsu untuk melawan kegairahan berarti menyerang balik relasi antara hasrat dan bahasa diantara kekerasan. Suatu peristiwa kekerasan layaknya akibat gigitan semut menjadi gigitan ular beludak.
Kebebasan yang fatal dibumbuhi dengan permainan berbahaya. Kebebasan berjalan sesuai dengan ambang batas dari kebebasan.Â
Peristiwa intelektual dan kebebasan yang bertujuan untuk menuntut peristiwa lain. Ia melepaskan pergerakan individu menuju titik akhir dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya.Â
Di situlah, kebebasan diiringi dengan akhir dari peristiwa suksesif di antara kekerasan dan atas nama perubahan.
Sebagai bagian dari dunia dan kehidupan kita, sifat alami masih bertahan. Dalam sebagian pemikiran dan kehidupan, kita dapat memperhatikan kebebasan yang cacat alami berubah menjadi buaian 'kekerasan'. Homo intellectus yang teguh akan memperingatkan tentang bahaya besar dari tipu muslihat di balik kesadaran massa.Â
Secara khusus, kesadaran massa dibayangkan seperti seonggok daging yang digerakkan oleh obyek lain. Setiap penekanan dari kesadaran ke ketidaksadaran hanya membebani di atas beban kebebasan bertumpuk atas nama perubahan.
Apakah kebenaran benda atau bukan, itu bukan cerita menarik dalam konsep bulan madu sang sutradara film komedi? Seandainya perubahan seperti sebuah meja yang terbuat dari serbuk bersifat lemah dari tekanan dan rapuhnya kekerasan.
Suatu bayang-bayang dan cahaya yang disengaja dirancang untuk perubahan dalam suatu pengintaian, penyelaman, dan perekaman atas gaya, gelombang dan percikan cahaya kilat atau menghancurkan ilusi dan mimpi buruk dari kekerasan. Boleh jadi, kejahatan disembunyikan dari kebenaran tentang kekerasan.
Bentuk atau manifestasi kekerasan nampak absurd seperti dalam sebuah kehangatan anggur, yang membangkitkan dunia indera bukan sebuah esensi, melainkan permainan tanda. Humor-humor maupun syaraf-syaraf perangsang yang tajam di balik rahasia mata indera.Â
Pikiran-pikiran dikorbankan melalui selera pada parfum atau busana. Segalanya akan menjadi aura kekerasan.
Semuanya mengacu pada sesuatu yang di luar pikiran. Produksi ingatan tidak bertentangan respons-respons birahi. Karena itu, ingatan memerlukan suatu lompatan: manusia sering melebihi birahinya sendiri.Â
Sensasi yang pincang ditandai akumulasi rasa haus, lapar, mengantuk, istirahat dan kebutuhan seks. Kita sangat gelisah jika suatu saat nanti terjadi kekerasan seksual.
Kita mesti banyak belajar pada peristiwa kemandekan atau kekuatan sensual modern (yang dipelopori oleh akhir dari nalar). Ingatan tidak tertidur dalam tidur bersama teks mimpi panjang.Â
Setiap realitas terjebak oleh perubahan masa. Dalam kontradiksi yang ringan, dari kekaburan dan kecerahan ingatan, ingatan sering tertidur saat terjaga melampaui mimpi, dimana ingatan sebagai tanda kelahiran kata-kata yang sama sebelum diartikulasikan.Â
Kontradiksi kegelapan dan cahaya di balik kekerasan. Kita yakin tentang obyek kamera menyajikan kekerasan demi kekerasan.
Di sini, tubuh berada dalam aura kekerasan mampu menyadap rahasia 'dunia indera' dan memukul mundur pikiran. Seperti seseorang yang tenggelam dalam hasrat untuk membeli sebuah bentuk 'kamera digital'.Â
Terlebih awal, obyek yang diketahui dalam hasratnya. Kekerasan tidak lebih sebagai sebuah cermin pantul yang buram dan kosong dari sudut penglihatan di balik mata.
Sebagai obyek nyata, karena kamera digital bermanfaat terutama mengambil obyek gambar kekerasan yang juga nyata. Kamera dilengkapi titik perhitungan jarak, cakupan-batasan, muatan, dan bahkan permainan warna terungkap.Â
Sebuah kamera disinari dengan garis cahaya dan yang dipantulkan dengan obyek yang dipotret.Â
Sebuah obyek kekerasan yang disorot cahaya melalui lensa yang dipantulkan oleh sebuah obyek tertentu tergiring dalam medium ketiadaan. Seseorang terlanjur disirami suatu cahaya kamera, dalam pemikiran hanya satu, yaitu dunia yang ada dalam dirinya sangat menarik pandangan.
Betapa sebuah sarana pemuasan amarah sangat menarik, tetapi energi yang mustahil tidak menarik prinsip estetis. Sebuah kamera interior adalah sarana sensasi dan media pergulatan pikiran, karena cahaya yang kuat ditransversalisasikan untuk memperjelas bayangan kekerasan dengan elemen pengaturan otomatis.Â
Seperti bayangan, ketajaman, dan penyinaran sebuah obyek kekerasan. Dalam pandangan buta itulah ada "kamera" tersembunyi, dimana berbagai penjelasan pada ketidakhadiran obyek melalui ketajaman sekaligus kekaburan sensorik dari peristiwa murni.
Titik buta yang teliti dan disatukan melalui 'angka diafragma'. Dari sebuah kamera dengan pernyataan absurd, semakin besar angka diafragma, semakin kecil peluang sebuah tanda-tanda kelahiran diafragma, atau sebaliknya. Karena alat-alat visual tidak lebih dari permainan cahaya.Â
Dalam cahaya benda-benda hanya akhir bagi kebutaan yang ada dalam benda-benda itu sendiri.Â
Misalnya, seorang pemabuk, melihat kilatan cahaya dari kamera akan mengakibatkan efek pemancingan sensasi yang terbatas.
Memancing  emosi pemabuk yang mengganggu pikirannya atas pantulan cahaya dari sebuah obyek yang tidak nyata dalam bentuk halusinasi massa. Ilmu ukur pergerakan massa dari satu tempat ke tempat lain dengan kaidah-kaidah formal dengan apa yang disebut metri causa (meter adalah irama dari distansi-jarak).Â
Setelah penilaian akhir, suatu revaluasi bentuk kekerasan yang tersembunyi dianggap bukan sebagai seni yang menghangatkan jiwa, mencakup rentetan angka, simfoni, dan syair yang teratur dan menukik tajam.
Melalui lensa kamera itulah, maka obyek-obyek sebagai realitas spasial dengan garis dan lingkaran menyelimuti kehidupan dan dunia, dimana selubung kekerasannya tersingkap melalui figur geometris. Kebebasan hanyalah pantulan dari tubuh bersama daya intelek; ia disamarkan dengan ketajaman sensasi mata.Â
Karena itu, ruang penglihatan dan pendengaran sebagai persepsi inderawi, maka pemisahan peristiwa kekerasan antara sesuatu yang nyata dengan ilusi.
"Aku tidak tidak meyakini bahwa mereka berada di awan." Dari mimpi tentang peristiwa tragis di balik kekerasan rasial berlanjut dalam lingkaran pemujaan atas teks-tubuh-konduktor (bintang masa depan yang baru) bergantung sedikit pada desakan akan perubahan.Â
Ia menjadi pelacak jejak-jejak, yang bertugas untuk mematangkan proses pembentukan peristiwa dengan 'darah daging perubahan' (pernyataan-pernyataan dari relasi antara tubuh dan hasrat yang telah disamarkan dengan tinggi, ramping, cantik, mulus, luas, dan diameter) terbebas dari lelucon yang paling kocak.
Bagaimana mencermati taburan cahaya lampu jalan tidak sekedar eksis, lampu biasa yang diselimuti unsur-unsur fisik.Â
Masih adakah cahaya di balik dua bayangan lampu berpijar terang?Â
Pikiran mengenai cahaya optikal masih dihubungkan dengan tubuh atau penglihatan mata yang ditampilkan dunia indera. Cahaya sensasi yang ada pada diri kita merupakan suatu bentuk tubuh setelah pikiran sebagai esensi mendahului identitas benda-benda.Â
Peristiwa tragis telah mengarahkan pada pikiran dengan obyek kekerasan menjadi simulasi yang melebur dalam ingatan. Ketika kita menerima sinyal-sinyal sederhana dari kesadaran.
Kita kembali ke perubahan dengan waktu bergerak menembus tapal batas dunia fisik. Suatu peristiwa kerusuhan rasial terjadi setelah tubuh mengorbankan tubuhnya sendiri.
Sambil menutup mata atau sebaliknya, ada seorang pemimpi atau pemabuk intelek dalam kegilaan. Ra furor brevis est (amarah adalah kegilaan yang singkat).
Amarah ini merupakan titik didih dari daya afektif (emosi) berhubungan dengan gairah atau hasrat. Amarah dikoordinasikan dengan tubuh, ilusi, dan balas dendam. Mengapa amarah tidak disebut sebagai kebajikan?Â
Dalam pemikiran modern, Spinoza menafsirkan "amarah (ira) adalah hasrat melalui rasa benci yang kita hasut untuk mengusahakan kejahatannya dengan siapa kita benci" (Ethics, 1959 : 137).
Sejauh ini, amarah tidak pernah memberikan landasan berpikir jernih atau menjadi suatu rententan pemikiran reflektif, dimana satu sisi pikiran menjauhi beban dari daya aktif yang jahat. Meski demikian, setiap rasa sakit bertubi-tubi yang menderanya bisa dilupakan atau dihilangkan.Â
Spinoza masih selalu mempertahankan amarah melalui sisi lain dari ingatan dan mesin sebagai upaya melengkapi kaidah-kaidah kekerasan terhadap diri seseorang.Â
Amarah adalah energi yang memiliki persfektif paling luas terhadap tubuh, dimana momentum rasa sakit atau kebencian ditunaikan.Â
Di bawah kepucatan para pemimpi, bahwa amarah sebagai sifat paling tipikal yang membekukan sebuah pergerakan atau perubahan tanpa kebebasan (Reformasi) yang kebablasan.
Akhirnya, kekerasan atau kerusuhan massa tidak penting apakah dalam peristiwa diskursif, suksesif atau tragis. Setiap orang berhak untuk membuka alur peristiwa-peristiwa murni secara obyektif yang dimuati dengan jejak-jejak dan tanda-tanda melebihi ingatan tentang kekerasan.Â
Setiap orang akan kembali melalui aliran waktu yang membebaskannya dan menggelincirkan kembali dalam peristiwa kekerasan lainnya. Kekerasan pra 21 Mei 1998 sebagai peristiwa yang bukan peristiwa.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI