Aku tak pernah mengerti mengapa sepatu dan dinding cafe lebih menarik baginya daripada melihatku.
"Ya, kan gampang. Tinggal revisi aja kok susah. Gitu aja kok repot," jawabku santai menirukan jargon pemimpin bangsa idolaku, Gus Dur.
"Ini harus maju ke meja Pak Wiyanto besok. Sementara hari ini aku ada janjian sama donatur acara itu, Dim. Gimana dong,"rengek Reni.Â
Kulirik dia dan tersenyum simpul,"Nah, pasti mo minta bantuan lagi kan? Hhh dasar manja,"sahutku sambil kusentuh hidungnya yang agak mancung itu.Â
Inginku, semua wajah itu kusentuh. Tapi, ah...entahlah. Segera kubuang pikiran itu jauh-jauh.
Reni tersenyum T-rex, matanya menyipit.Â
Oh, rasanya ingin sekali kucium pipimu yang kini hanya berjarak beberapa sentimeter dariku, Reniiiii.......
"Makasih, Dim... Ntar aku traktir makan siang yha, tapi kamu yang bayarin, yaaa....," ujarnya sambil menyerobot es cappucino milikku, sebelum pergi bersama motor matic-nya.
Sungguh gadis tergila yang pernah kujumpai dalam hidupku. Tapi aku suka. Lantas.... Mau apa? Mengalir pelan lagu You're Beautiful milik James Blunt di kepalaku,
My life is brilliant, my love is pure... I saw an angle, of that I'm sure
She smiled at me on the subway....she was with another man, but I won't lose, no sleep on that, 'cause I've got a plan...