CONTOH KASUS KE-3 : Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Jasa Sehubungan dengan Pekerjaan Bebas
Tuan Bima adalah seorang pengacara dan sedang menangani sengketa kasus penyalahgunaan hak cipta milik PT Berliana. Atas penyelesaian kasus tersebut, Tuan Bima menerima atau memperoleh imbalan dari PT Berliana sebesar Rp400.000.000,-
Penghitungan PPh Pasal 21:
Dasar pemotongan dan pengenaan Pajak Penghasilan Pasal 21 atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Tuan Bima adalah sebesar 50% x Rp400.000.000 = Rp200.000.000,-
Penghitungan PPh Pasal 21 menggunakan tarif Pasal 17 UU PPh sebagai berikut:
(5% x Rp60.000.000,00) + (15% x Rp140.000.000,00) = Rp24.000.000,-
CONTOH KASUS KE-4 : Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, Atau Kegiatan Atas Penghasilan Yang Diterima Atau Diperoleh Pegawai Yang Berstatus Wajib Pajak Luar Negeri Yang Menerima Atau Memperoleh Gaji Sebagian Atau Seluruhnya Dalam Mata Uang Asing.
Tuan Jemy adalah warga negara Filipima yang bekerja pada PT KERJA AJA TERUS dan berada di Indonesia kurang dari 183 hari. Tuan Jemy menerima atau memperoleh gaji pada bulan Maret 2024 sebesar US$2.500 sebulan. Kurs Menteri Keuangan yang berlaku pada saat dilakukannya pembayaran adalah sebesar Rp15.000,00 untuk US$1.
Penghitungan PPh Pasal 26 :
Besarnya pemotongan Pajak Penghasilan Pasal 26 atas gaji yang diterima atau diperoleh Tuan Jemy pada bulan Maret 2024 adalah sebesar 20% x US$2.500 x Rp15.000,00 = Rp7.500.000,00 dan bersifat final.
SUMBER REFERENSI :