"Apa!"
"Bu Amirah harus mendapatkan donor ginjal yang cocok jika ingin selamat dan operasinya hanya bisa di lakukan di rumah sakit. Makanya aku mencari nomor abangmu di rumah ini, maaf kalau lancang!" jelas bu Rukmi.
"Dan sekarang....?"
"Arman menjemputnya dan memindahkannya ke rumah sakit di kota!" sahut Bu Rukmi.
Aku terdiam, ibu harus di operasi? Dan sekarang dia bersama bang Arman. Pasti mereka semua sedang meracau memakiku. Sesuatu ku rasakan di tanganku, aku menatapnya lalu kembali ke wajah perempuan paruh baya di sampingku.
"Ini, kamu pasti membutuhkannya untuk menjenguk ibumu!"
"Tidak bu, aku tidak bisa menerimanya. Selama ini....aku...!"
"Ibu Iklas, pergilah dan temui ibumu. Dia selalu menyebut namamu meski sedang tidak sadarkan diri!"
Ku tatap wanita dengan mata sembabku, "terima kasih!" aku segera berlari ke arah ibu. Berharap ibu sudah baik-baik saja. Tapi aku tidak tahu di rumah sakit mana bang Arman menaruh Ibu, maka ku putuskan untuk menuju rumah bang Arman dulu. Mengendap di balik pohon menunggu mereka keluar, lalu aku mengikutinya hingga ke rumah sakit.
Terlihat dokter sedang berbicara dengan mbak Susi, istri bang Arman. Setelah dokter pergi aku mengikuitnya.
"Dokter, maaf!" panggilku, dokter itu pun menoleh. "ya!"