“Iya…” Bibir Laura manyun.
“Kenapa?” Tanya Dio serius.
“Abisnya Kakak pelatihnya cerewet. Dikerjain dikit aja langsung marah. Namanya juga anak kecil ya pasti agak sedikit nakal khan?” Kata Laura polos sementara wajah Dio berubah dongkol mendengar penjelasan Laura tak masuk akal. “Aku frustasi dimarahin begitu. Iya sich… Marahnya kecil-kecilan tapi tetap aja nyelekit gitu. Aku keluar. Seminggu kemudian aku masuk dech les karate.” Kata Laura senang.
Berulang-ulang Dio menepoki jidatnya sampai memerah. Mama Laura yang baru datang membawa minuman hanya bisa terkekeh-kekeh. Laura memasang wajah kebingungan.
“Ih, pada kenapa sich?” Laura mencibirkan bibirnya sambil meneguk the manis dari gelas Mamanya.
“Ga kenapa-napa kok, Laura jelek!!!” Dio berusaha mengatur nafasnya kembali yang sedari tadi bergolak bersama emosi mendengar cerita aneh Laura.
*********
Sahlan yang bersiap-siap untuk kuliah menyempatkan diri memijiti nomer HP Laura untuk meneleponnya. Tuuttt!!!
“Dek… Dimana?” Tanya Sahnan. Sementara Laura yang berada di seberang telepon sedang berada dalam mobil Dio yang akan menghantarkan Laura untuk ngampus.
“Ouuh… Aku udah di jalan, Bang! Entar lagi nyampe kok. Maaf yah aku kelupaan kalau hari ini bakal dijemput. Hihi…” Kata Laura. Wajah Sahlan cerah mendengar suara ceria Laura yang berada di seberang sana.
“Ya, udah… Hati-hati yach? Kita ketemu di depan kampus. Ingat! Jangan langsung masuk kelas… Ok?”