"Rahasia!"
   "Kalau begitu, coba tulis sesuatu." Aku menyodorkan secarik kertas kosong. Devan menulis, "Cerah jelek."
Aku ingin menimpuknya tetapi bukan itu fokusku sekarang. Tulisan itu berbeda. Tetapi bisa saja memang dibeda-bedakan bukan?
   Devan membuyarkan lamunanku. "Nggak usah memedulikan pengagum rahasia itu lagi ya. Kamu punya aku, pengagum yang nyata, yang nggak pecundang mainnya surat-suratan doang."
Aku mematung lagi, salah tingkah.
   "Soal rahasia yang tadi, aku beritahu besok ya."
   Aku tetap diam. Mataku fokus ke laptop di hadapanku, namun pikiranku ke mana-mana. Devan memang pengagum rahasia itu, tetapi dia tidak mau tertangkap basah. Dia mau membocorkan itu sendiri besok. Lihat saja, masih kutangkap sisa kepanikan dan kegugupan di wajahnya. Malam semakin larut, kami bersiap-siap pulang.
   "Semoga kamu bisa tidur malam ini," goda Devan memecah keheningan. Tangannya gesit merapikan barang-barangku karena aku sedang sibuk menyeruput kopi yang masih tersisa. Aku hampir tersedak. Devan tertawa sambil membawakan tas laptopku dan menggendong ranselnya di punggung. Bergegas pergi meninggalkanku yang masih sedikit terbatuk.
**
   Malam yang kutunggu-tunggu pun tiba. Aku akan menertawakan kegilaan dan kepayahan Devan dalam penyamarannya menjadi pengagum rahasiaku. Devan terlihat gugup. Sedangkan aku hanya tertawa dalam hati. Baru dua kali dia mencoba menyuratiku, tetapi dia sudah ketahuan. Pesanan kami datang, tetapi bukan Riko yang mengantarnya. Kali ini ada cheesecake blueberry. Aku merutuk dalam hati, "Sudah ketahuan tetapi masih saja memesankan makanan. Pantang menyerah sekali si Devan ini."
   "Dia ada rapat agenda di fakultas. Dia teman satu angkatanku," kata Devan ketika melihat wajahku mencari Riko.