"Aku ingin kamu menikah dengan Mas Anan." Gischa mengucap kalimatnya lirih, namun cukup membuat Lintang seperti mendengar petir di siang benderang.
"Kamu nggak lagi mengigau kan, Gis?" tanya Lintang mencari kebenaran di kedalaman mata Gischa.
Gischa menggeleng, tak ada aura main-main dalam tatapnya. Ia bahkan menatap Lintang dengan penuh harap.
"Aku serius, Tang." Gischa menekankan sekali lagi kalimatnya, membuat Lintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Seumur hidup baru kali ini ada perempuan yang meminta perempuan lain untuk menikahi suaminya. Permainan gila macam apa ini.. Lintang menyugar kasar tak tahu harus berkata apa.
"Gischa.." Lintang menatap lekat sahabatnya.
"Selama kita bersahabat, Â kamu memang selalu penuh kejutan dengan candaan kamu. Tapi kali ini candaan kamu nggak lucu."
"Aku nggak lagi becanda, sayang." Gischa mencolek hidung Lintang yang mancung.
"Stop! Don't kidding anymore! Kamu bukan cuma membuat aku terkejut, tapi hampir pingsan karena kegilaan kamu."
Gischa tersenyum, Â memutar kursi rodanya hingga sekarang mereka berhadapan. Lalu diraihnya tangan Lintang.
"Aku minta tolong sangat.. Menikahlah dengan Mas Anan..! Bahagiakan dia..!"
"Tunggu..! Maksudmu apakah...."