Pusat rasa sakit di otak Sivia telah rusak. Ia tersenyum alih-alih kesakitan. Miris hati Calvin memandangnya. Istrinya seolah mati rasa.
Senyum Sivia melebar. Ia menjilat darahnya sendiri. Asin, begitu lidahnya mencecap cairan merah pekat.
"Berhenti melakukannya, Sivia. Jangan menjilati darahmu..." cegah Calvin.
"Kenapa tidak boleh? Ini tubuhku, ini darahku!" gertak Sivia kasar.
Calvin menghela napas sabar. Dibebatnya luka Sivia dengan perban. Biar sang istri tak bisa lagi menjilati darahnya sendiri. Sivia berteriak, meronta, dan meminta balutan lukanya dilepas. Kali ini, Calvin menolak permintaan Sivia. Ia bisa tegas kalau diperlukan.
Urusan perban membuat kondisi emosi Sivia semakin labil. Dia berteriak-teriak lebih keras dari sebelumnya. Kepala berambut panjang itu dibenturkannya ke dinding. Calvin memeluk Sivia, mendekapnya kuat sekali. Mengunci tubuh wanita bergaun putih itu, menghalangi ruang geraknya.
"Aku peluk Princess biar nggak bisa gerak..." Calvin sedikit terengah. Lelah mencegah pendamping hidupnya melukai diri.
Andai saja mata batin Sivia terbuka sedikit. Pastilah dia memahami betapa lelahnya Calvin. Enam tahun menjaga Sivia sungguh tak mudah.
Menjelang siang, Calvin tak kuat lagi. Suhu tubuhnya merangkak naik. Walaupun tubuhnya menghangat, ia justru merasakan dingin luar biasa. Ribuan jarum jahat menusuk-nusuk kepala dan dadanya. Sindrom kekentalan darah begitu jahat hari ini.
Sulitnya berdamai dengan penyakit ini. Darah yang mengental enggann berkompromi. Dua badai di tubuhnya dan di tubuh Sivia mesti ia hadapi.
Apa yang bisa dilakukan Calvin selain menguatkan diri? Ya, hanya itu. Ia mencoba kuat dan tegar melewati semuanya. Hati pria penyabar itu terus melagukan pikiran positif. Pikiran positif bahwa ia dipercaya Tuhan. Tuhan mempercayakan Sivia yang istimewa untuk ia jaga.