“Heuu, sebel.” Yoga turun dari stage sambil menggerutu dengan menjinjing dus snacknya kembali.
Perasaan Rein tak keruan, keringat dingin sebesar besar jerawat yang ada di hidung Redi bermunculan di dahinya. Terakhir kali Rein menyanyi di stage adalah saat acara perpisahan SMA-nya.
“Rein kamu bisa, semangat!” Jojo meyakinkan gadis yang raut wajahnya terlihat pucat itu.
Rein menganggukan kepalanya, walau ada sedikit rasa ragu.
Jed memainkan intro Don’t Speak dengan lembut dan Rein menunggu aba aba dari nya. Jed menganggukkan kepalanya, dan Rein pun mulai mengeluarkan suaranya. Suara yang ia sendiri tak tahu bagaimana terdengarnya. Saat itu Rein merasa gugup sekali, ia berpikir Shia mungkin bisa menyamankan hatinya. Ia pun menatap Shia, namun bukan kenyamanan yang ia dapatkan melainkan wajah galak yang siap menerkam. Akhirnya Rein lebih memilih untuk memandangi sepatu sneakers-nya, dan itu ternyata lebih menenangkan.
Seiring dengan berakhirnya lagu yang mereka bawakan, berakhir pula acara perpisahan sederhana yang di gelar malam itu. Dengan langkah tergesa Shia mendekati stage.
“Jo thanks ya, rame nih.” Shia menyalami Jojo tanpa sedikit pun melihat ke arah Rein.
“Shi anterin kita pulang ya.” Maya tiba tiba menginterupsi obrolan Shia dan Jojo.
Shia mengangguk, lalu menghampiri Rein menggandeng tangannya untuk menjauh dari kerumunan. “Rein pulang sama aku aja, kita kan searah, nanti aku antar sampai rumah.” teriak Jojo.
“Gak usah Jo, Rein sama aku aja, dia kan tanggung jawab ku.” Shia menjawab dengan tenang sementara Jojo menghampiri mereka.
“Maksud aku, kamu kan harus antar anak-anak, nanti kemalaman. Kalau Rein sama aku, kan jadi bisa menghemat waktu.” Jojo meyakinkan.