Seperti dugaanku. Itu tikus bukan wirog bukan pula curut. Wirog dan curut sudah tak berani lagi berkeliaran di situ, trauma akan peristiwa naas yang menimpa jenis mereka.
Perangkap beserta tikusnya itu kubawa ke belakang. Tadinya mau kukubur, tapi ini malam-malam dan lagipula mulai hujan lagi. Wah, bagaimana ya, kalau kubiarkan sampai pagi kasihan juga mendiang tikus ini.
Aha, tiba-tiba saja aku ingat. Tepat di sudut kanan pagar belakang rumahku itu parit kecil. Lebarnya sekitar satu meteran. Pasca hujan deras sore tadi, pastinya parit itu deras juga alirannya.Â
Tanpa pikir panjang kulepaskan tikus dari perangkap, kuambil selembar daun lebar, lalu kupegang ekornya dan kulemparkan ke luar pagar dengan penuh perkiraan.
Plung!
Ahaa. . bunyi itu menandakan lemparanku tepat ke parit. Bangkai tikus telah diterima dengan baik oleh sang parit.
Curut sudah, wirog sudah, tikus biasa juga sudah. Apakah bisa dikatakan rumahku sudah akan aman? Nanti dulu. Aku tetap tak mau mengendorkan perlawanan. Setiap malam, perangkap tetap kupasang meski tak terlihat tikus dan sebangsanya berkeliaran.Â
Memang, hingga berhari-hari kemudian tak satu pun hewan terjebak perangkapku. Jangankan ada hewan terjebak, yang mendekatinya saja pun sepertinya tak ada. Karena umpan selalu utuh hingga esok paginya.Â
Keranjang sampah plastik yang berisi tulang dan ikan pun tetap berdiri tegak. Berbeda dengan zaman para curut dan tikus masih bebas berkeliaran, tiap pagi keranjang sampah hampir selalu terhumbalang dengan sampah berserakan tak karuan. Sekarang aman tanpa gangguan.
Hingga suatu pagi, kudapati perangkap telah menutup tanpa mendapatkan sasaran, sementara umpannya meski masih utuh meski berserakan di dekatnya.Â
Menurut nalar intelijenku, ada hewan yang mencoba mengambil umpan, tetapi perangkap luput mengenainya. Alhasil, perangkap tak mendapat sasaran, si hewan kaget bukan kepalang lalu lari lintang pukang ... pulang.