"Ayo kita duduk di sana, sambil menikmati minuman hangat!" Firdaus menunjuk sebuah tempat yang terlihat nyaman. Dia langsung melangkah, Kami bertiga mengikuti dari belakang.
Beberapa saat kami terlibat perbincangan akrab. Kekakuan semalam sudah tak terasa lagi. Kami saling mengucapkan terima kasih dan saling meminta maaf.
Tampak Danil melihat arlojinya. Kemudian dia mengisyaratkan untuk segera bergabung dengan teman-teman relawan yang lain. Kami bersiap melangkah tiba-tiba kudengar suara memanggil.
" Papa...!"
Spontan kami menoleh. Dua anak laki-laki yang tampan berlari kearah kami. Langsung memelukku. Aku tak mampu berbuat apapun. Ada ekspresi  kaget luar biasa di wajah Hida.
Hida menatapku dengan tatapan penuh tanya. "Anakmu, Kak?" Suara Hida nyaris tak terdengar.
" Iya." Â Hanya kata itu yang terucap. Aku tak mampu menatapnya lagi.
Hida melangkah mendekatiku. Jantungku berdetak keras. Aku tak mau membayangkan apa yang akan Hida lakukan. Wajahnya tampak kaku. Dia mendekati kedua anakku.
Tiba-tiba dia berjongkok. Kedua tangannya dikembangkan meraih tubuh kedua anakku. Dia menarik tubuh mungil itu dalam peluknya. Di antara isak tangisnya dia dekap keduanya dengan erat. Perlahan dia mulai  melepaskan. Satu per satu diciumilah anakku. Tak sepatah kata pun terucap.  Kembali tangannya membelai rambut mereka dengan penuh kasih
Semua orang terdiam, tampak menahan napas. Tak seorangpun yang mampu berkata-kata. Ketegangan makin menyelimuti semua yang menyaksikan, mereka saling berpandangan.
Hida bangkit. Dia usapn air mata yang membasahi pipi. Perlahan dia melangkah mendekatiku. Dia berdiri tepat berhadapan denganku. Pandangannya tajam menatapku.