Media sosial juga telah mengubah cara pemimpin berkomunikasi dengan pengikut mereka. Di satu sisi, media sosial memberi pemimpin cara yang lebih langsung dan efektif untuk terhubung dengan pengikut.
 Di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi alat yang berbahaya jika digunakan secara tidak bijak. Contohnya, beberapa pemimpin menggunakan media sosial untuk mempromosikan agenda pribadi atau bahkan menyebarkan informasi yang salah, yang pada akhirnya dapat mengikis kepercayaan publik.
Dalam konteks ini, Aristoteles akan memperingatkan bahaya yang muncul dari kurangnya pengendalian diri (sophrosyne) dalam penggunaan media sosial. Pemimpin yang bijaksana harus memahami bagaimana menggunakan platform ini dengan bijak dan bertanggung jawab. Mereka harus menghindari tindakan yang hanya mempromosikan kepentingan pribadi atau menyebabkan polarisasi sosial, dan sebaliknya, menggunakan media sosial untuk mempromosikan dialog yang sehat, etika, dan integritas dalam kepemimpinan.
C. Kepemimpinan Berbasis Teknologi: AI, Automasi, dan Etika dalam Pengambilan Keputusan
Artificial Intelligence (AI) dan automasi telah mulai mengubah cara organisasi beroperasi dan bagaimana pemimpin mengambil keputusan. Banyak tugas-tugas manajerial yang sebelumnya dikelola oleh manusia kini dapat diotomatisasi, dan algoritma AI digunakan untuk membuat keputusan dalam berbagai aspek bisnis. Namun, ini juga menimbulkan pertanyaan etis baru, terutama tentang bagaimana algoritma ini dikembangkan dan digunakan.
Sebagai contoh, algoritma yang digunakan dalam sistem penilaian kredit atau penentuan peluang kerja sering kali memiliki bias yang tidak disengaja. Hal ini terjadi karena data historis yang digunakan untuk melatih AI mengandung bias-bias yang tidak terlihat oleh pengembang, tetapi menghasilkan keputusan yang tidak adil.
 Pemimpin di era digital harus memahami bahwa, meskipun AI dapat menawarkan efisiensi, mereka harus tetap bertanggung jawab atas keputusan etis yang dibuat oleh teknologi ini.
Aristoteles akan menekankan pentingnya tanggung jawab moral dalam penggunaan teknologi. Meskipun teknologi dapat meningkatkan efisiensi, penggunaannya harus selalu diukur dengan kebajikan moral.Â
Pemimpin harus memastikan bahwa keputusan yang dihasilkan oleh teknologi tidak melanggar prinsip keadilan, dan bahwa mereka tetap memegang kendali atas proses pengambilan keputusan, alih-alih menyerahkannya sepenuhnya kepada mesin.
D. Teknologi dan Pengaruh terhadap Moralitas Kepemimpinan
Kecenderungan modern dalam kepemimpinan tidak hanya memengaruhi cara keputusan diambil, tetapi juga bagaimana pemimpin membentuk moralitas mereka sendiri. Teknologi dapat membuat jarak antara pemimpin dan dampak dari keputusan mereka. Sebagai contoh, pemimpin yang menggunakan drone untuk tujuan militer mungkin tidak merasakan langsung dampak dari tindakan mereka, yang bisa mengurangi tanggung jawab moral yang mereka rasakan.